Islam Nusantara: Islam Nusantara
Showing posts with label Islam Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Islam Nusantara. Show all posts

Saturday, July 6, 2019

KESABARAN KH. HASYIM SHOLEH DIUJI SANG MURSYID (GUS MIEK)

ISNUSA - Salah satu alasan mengapa Majelis Sema’an Al Qur'an dan Dzikrul Ghofilin bisa berkembang pesat dan tersebar luas adalah karena Gus Miek mempunyai pengikut, santri, karib dari kalangan Kiai-kiai ternama di daerah–daerah, yang dengan ikhlas lahir bathin siap mengembangkan majelis ini.

Salah satu "tangan kanan" Gus Miek adalah KH. Hasyim Sholeh. Masyarakat sekitar kerap memanggilnya Mbah Hasyim Mayak (Mayak, merujuk pada nama dukuh/desa) Pendiri Pondok Pesantren Darul Huda, Ponorogo yang hingga kini dibuat ngangsu kaweruh ribuan santri. Kesiapan lahir bathin tersebut salah satunya bisa disimpulkan dari cerita berikut:

Kisah ini penulis dapat ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Darul Huda, Ponorogo, pada suatu forum mengaji yang diampu oleh Gus Sami’ (Putra KH. Hasyim Sholeh). Beliau bercerita dengan intonasi yang lembut nan khas.

Di saat majelis sima’an Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin masih terpusat di daerah Kediri, banyak jemaah dari luar kota yang berbondong–bondong menghadiri majelis tersebut, tak terkecuali rombongan dari Ponorogo yang dipimpin KH. Hasyim Sholeh. Pada suatu momen sima’an, Gus Miek melihat rombongan Ponorogo kian bertambah banyak. Gus Miek menilai sudah saatnya Ponorogo mendirikan majelis sendiri. Dipanggillah Mbah Hasyim menghadap.

“Kiai, njenengan saya amanahi merintis sima’an di Ponorogo ya?” pinta Gus Miek.

“Iya, Kiai.” Jawab Mbah Hasyim dengan penuh ta’dzim.

“Njenengan cari waktu yang sesuai, nanti saya sendiri yang akan meresmikan.”

“Iya,  TimpKiai.”al Mbah Hasyim sekali lagi.

Waktu yang direncanakan pun telah tiba. Bertempat di depan kediaman Mbah Hasyim, para jemaah berkumpul membentuk lingkaran dengan sebuah tumpeng di tengahnya. Majelis hanya tinggal menunggu kedatangan Gus Miek.

Waktu terus berjalan namun Gus Miek tak kunjung datang. Jemaah pun mulai resah termasuk Mbah Hasyim selaku shohibul hajat. Setelah dirasa Gus Miek tidak datang, jemaah pun satu persatu pamit pulang dengan memendam rasa kecewa, tak terkecuali Mbah Hasyim sendiri.

Di kesempatan sima’an selanjutnya, Mbah Hasyim tetap berangkat. Kekecewaan lantaran tidak hadirnya Gus Miek dalam rencana peresmian majelis tempo hari tak membuatnya patah hati. Setelah majelis selesai, Gus Miek memanggil Mbah Hasyim yang berada di tengah rombongan Ponorogo.

“Mohon maaf kiai, kemarin berhalangan hadir, njenengan cari waktu lagi ya? Oh iya, sekalian siapkan pengeras suara yang bagus.” Pinta Gus Miek dengan nada mantap dan lugas.

“Iya, Kiai.” jawab Mbah Hasyim sembari berharap semoga kali ini benar–benar bisa datang.

Waktu peresmian telah tiba. Seperti biasanya, jemaah melingkar dan sebuah tumpeng berada di tengah lingkaran. Kali ini terdapat pengeras suara yang lebih besar dari sebelumnya. Semua sudah siap, tinggal menunngu sang Mursyid tunggal Dzkirul Ghofilin. Namun sang guru belum juga tiba. Mbah Hasyim berharap cemas dan tak ingin kembali mengecewakan para jemaah.

Tapi kenyataan berkata lain. Mbah Hasyim kembali kecewa, karena ternyata sang guru tidak hadir hingga majelis bubar. Di tengah malam yang sunyi, Mbah Hasyim keluar rumah dan berjalan menyusuri pinggiran jalan raya sambil sesekali meneteskan air mata.

“Apa sebenarnya diinginkan Gus Miek?"

"Apakah aku melakukan kesalahan hingga membuat beliau tidak mau hadir?"

"Ataukah Tuhan belum menghendaki majelis ini berdiri di Ponorogo?” bathin-nya terus bergejolak.

Di tengah gejolak hatinya, sebuah mobil lewat dari arah belakang mbah Hasyim. Mobil ber-plat "N1CA" itu tak lain dan tak bukan adalah mobil Gus Miek. Mobil itu berjalan pelan sendirian di tengah jalan. Seakan ingin menunjukan bahwa sebenarnya Gus Miek memang telah berada di Ponorogo dan sengaja tidak menghadiri kegiatan peresmian.

Pada kesempatan sima’an selanjutnya, Mbah Hasyim memantapkan hatinya untuk berangkat ke Kediri, seakan hatinya tegas berkata, “Ada atau tidak adanya majelis sima’an di Ponorogo tak akan menyurutkan semangatku untuk istiqomah hadir di majelis sima’an”. Pasca majelis selesai, seperti biasa mbah Hasyim dipanggil gus Miek.

“Mohon maaf Kiai, kemarin tidak bisa hadir. Njenengan kumpulkan lagi jemaah yang banyak, kali ini hukumnya wajib saya hadir.” pinta Gus miek dengan senyum ramah seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Iya, Kiai.” timpal Mbah Hasyim lirih.

Kali ini dibenaknya hanya pasrah, ini semua diniati semata mencari berkah sang guru.

Waktu yang ditunggu telah tiba. Kali ini selain tumpeng yang lebih besar, jemaah pun lebih banyak sesuai permintaan Gus Miek. Semua yakin dan mantab kali ini Gus Miek benar-benar bisa hadir. Namun harapan itu ternyata sirna. Gus Miek benar-benar tidak hadir untuk ketiga kalinya. Jemaah pun bubar. Tak ada peresmian malam itu. Tengah malam, mbah Hasyim berjalan menyusuri jalan, untuk sekedar meluapkan kesedihannya. Air matanya menetes. Dalam hatinya bermunajat,

“Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk menghadapi cobaan-Mu, semua yang hamba jalani semata hanya untuk meraih ridha-Mu.”

Di tengah kegalauannya, di jalan yang sama seperti yang lalu, Mbah Hasyim melihat ada mobil lewat di sampingnya. Mobil sang guru berjalan pelan dan berhenti. Kaca depan mobil itu terbuka dan wajah sang guru keluar di balik kaca mobil sembari melontarkan satu kalimat.

“Gimana, Kiai? Enak to?” dawuh Gus Miek dengan tersenyum tipis.

Setelah itu, mobil melaju kencang. Mbah Hasyim menunduk dan mengelus dada dengan perasaan campur aduk antara sedih, kecewa, dan pasrah. Konon di pertemuan selanjutnya Gus Miek berbicara empat mata dengan mbah Hasyim yang intinya serangkaian kejadian kemarin hanya sebuah ujian kecil dari sang guru.

“Kalau mau marah tidak perlu belajar, kecuali sabar, itu butuh belajar.” begitu pesan Gus Miek.

Singkat cerita sima’an mantab akhirnya diresmikan langsung oleh Gus Miek. Meskipun terdapat berbagai hambatan di awal berdirinya, namun berkat bekal ujian kesabaran dari SANG GURU, dan kegigihan sang murid serta atas ridha-Nya, seperti yang kita ketahui majelis sima’an Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Majelis ini ibarat oase di tengah keringnya aspek spiritual di kalangan masyarakat.
Kagem Beliau berdua, Al-faatihah.

Fathan Zainur Rosyid | Sabtu, 29 Juni 2019 | 16.40 WIB.

HUMOR GUS DUR : "Kiai dan Tiang Listrik"

ISNUSA - Humor ini cukup populer, berkat Gus Dur tentunya. Gus Dur melontarkan humor ini untuk menjelaskan bagaimana kiai tidak main-main dengan satu prinsip syariat Islam: maslahah, tentang kebaikan umat banyak.

Suatu hari Gus Dur berada dalam satu mobil dengan Kiai-kiai. Ada lima sampai enam orang Kiai. Mobil ber-AC. Tidak ada yang merokok, kecuali satu kiai. Kiai ini, sebut saja Kiai Ahmad. Karena kebiasaannya merokok, maka akhirnyapun beliau merokok.

Agar tidak mengganggu yang lain, Kiai Ahmad membuka jendel kaca. Dan di situlah tangan kiri Kiai Ahmad nyelonong keluar, memegang rokok yang telah di sulutnya. Tapi ada  seorang kiai yang tetap keberatan dengan sikap Kiai Ahmad yang Merokok ini. Kemudian beliau pun menegur Kiai Ahmad,

“Kiai, tahan dululah. Sejam lagi sampai kita. Di sana kita merokok.”
Kiai Ahmad yang ditegur diam saja.

“Kiai, mending matikan saja rokoknya. Dan tutup jendelanya. Bahaya juga kalau ada tiang listrik, tangan Sampean patah nanti,” seorang kiai yang keberatan menakut-nakuti Kiai Ahmad. Tapi Kiai Ahmad cuek.

Akhirnyapun Kiai yang keberatan tersebut melaporlah ke Gus Dur. Lalu Gus Dur yang duduk di depan bicara lirih,

“Bilang ke Kiai Ahmad, tangan dia kalau nabrak tiang listrik, bisa roboh tiangnya. Kalau roboh, mati lampu tiga kecamatan.”

Lalu disampaikanlah pesan Gus Dur itu ke Kiai Ahmad. Tanpa babibu, Kiai Ahmad mematikan rokok, memasukkan tangannya, dan menutup jendela.

Gus Dur menyampaikan pesan setelah bercerita, 

“Itulah kiai, tidak terlalu memperhatikan keselamatan dirinya, tapi kalau kemaslahatan umat, kiai tidak main-main. Kita harus pandai-pandai bicara dengan kiai.” (@ulama.nusantara)

ISNUSA | Senin, 01 Juli 2019 | 01.20 WIB.

Gus Baha' : "Perlunya Ilmu Mantiq dalam Mengenal Allah"

ISNUSA - Keinginan setan adalah agar manusia senantiasa tidak berpikir dengan selalu hidup bersenang-senang. Dengan menjalani kehidupan yang penuh kesenangan seketika akan membawa manusia untuk malas mencari tahu tentang siapa Tuhannya.

Inilah yang menjadi sebab utama munculnya faham nihilism, atheism yang sepertinya sangat kritis dan selalu mengedepankan logika dalam pola pikirnya kendatipun tak pernah menemukan bukti tentang keberadaan Tuhan.

Tujuan utama mengaji adalah mengenalkan seseorang terhadap Allah (Tuhan) dengan akal sehat. Kekeliruan yang kerap dilakukan para 'ulama adalah memulai dengan mengenalkan sebutan Allah tanpa memberi pemahaman logis tentang esensi Tuhan yang dapat diterima oleh mereka.

KH. Bahauddin Nur Salim atau yang seringkali hanya dikenal dengan sebutan Gus Baha’ dalam suatu pengajian mengatakan bahwa,

“Dalam ilmu mantiq yang diajarkan di pondok-pondok pesantren tidak pernah menyebutkan Allah, yang disebutkan adalah bahwa alam ini makhluk (ciptaan). dan setiap makhluk memerlukan Kholik (pencipta) untuk dapat menjadi ada. Alam ini adalah sebuah akibat, dan sebagai akibat akan selalu butuh sebab”.

Lalu Gus Baha menjelaskan bahwa, Sebab ini kita sebut musabibul asbab. Artinya sebuah ‘Sebab’ harus ada sebelum yang disebabi atau ‘Akibat’ itu sendiri ada.

“Wujud yang sekarang kita kenal ini membutuhkan penyebab atau yang kita kenal sebagai Wajibil Wujud atau wujud superior. Semua itu oleh Islam disebut dengan nama Allah”, papar kiai penekun tasawuf ini lebih lanjut.

Akal manusia hanya sampai pada rumusan bahwa alam ini butuh penyebab, yang oleh Einsten dan pemikir-pemikir modern dikenal dengan ‘Causa Prima’.

Maka menurut santri kesayangan Mbah Moen Sarang (KH. Maimoen Zubair) ini ilmu mantiq ala pesantren sangat penting agar kita tidak sering keliru dalam merekonstruksi bangunan tauhid dalam logika yang menjadi landasan penting dalam mengenal Allah melalui sifat-sifatnya.  (@ulama.nusantara)

ISNUSA | Senin, 01 Juli 2019 | 01.13 WIB.

Tuesday, July 2, 2019

Setan diantara Shaf Sholat Jama'ah

Isnusa.blogspot.com - "Gegara komen di status Wan Abd. Rasyid soal sholat mengangkang. Jum'atan kemarin aku kena karmanya."

Sampingku adalah anak muda trendi dengan celana pensil, khas generasi milenial syari'ah usia 20-an tahun. Ia mengisi shaf sebelah kiriku karena kosong.

Ketika imam meminta meluruskan shaf, jenthik kakinya menyentuh jenthik kakiku.  Karena risih,  ya aku kasih jarak sedikit, padahal lenganku sudah berhimpitan mesra dengan lengannya.

Takbiratul ihrom aman. Baru ketika kami mengamini Fatihah imam,  jenthiknya krugel-krugel (bergerak seperti ulat) mengejar jenthikku.  Sambil badannya tampak goyang-goyang maju mundur.

Sumpah..
Ketimbang anak-anak kecil dikampunku yang usil mainan beduk saat traweh,  anak muda sampingku ini jauh lebih mengganggu. Karena jenthiknya krugel-krugel terus tidak hanya menyentuh.
Tetapi disaat jenthikku lari,  aku sudah sedih dengan sholatku yang blas ra bermutu ini. Dan kemudian ini berlanjut lagi di rokaat kedua.

"Anak ini sepertinya sholatnya lebih takut dihadiri setan di kakinya,  ketimbang hadirnya Tuhan di fikirannya."

Sholat jumatku yang hadir malah jenthik kaki anak ini.  "Ya Allah, bocah ini tidak memberi ruang kepada setan dikakinya, tapi menghadirkannya di kepalaku."

"Tolong bro.."

"Bagi sampeyan yang mesra jenthiknya, ketimbang hati sebelahnya. Hargailah! Karena terkadang ada orang-orang yang risih dengan jenthik yang krugel-krugel seperti itu. Jangan hadirkan setan dalam  fikiran kami."
Itu..  Cuk.. 
(Kang Adang Legowo FB)


ISNUSA | Sabtu, 29 Juni 2019 | 11.03 WIB.

Belajar Agama Malah Masuk Neraka

isnusa.blogspot.com - Sungguh malang orang yang mempelajari ilmu agama dengan tujuan ingin mengungguli para ulama dan menuai pujian dari zu'ama serta orang-orang awam. Kepiawiannya di dalam meracik dan menyajikan argumentasi tidaklah menyelamatkan dirinya dan juga umat yang memuja dan memujinya. Jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan dirinya sendiri saja belum tentu bisa.

Tipe-tipe orang yang belajar untuk terlihat lebih unggul itu, biasanya kelihatan pongah di dalam setiap forum. Kata-kata melecehkan orang lain, selalu mudah keluar dari lisannya. Faedah yang bisa diambil dari perkataan orang seperti ini hanyalah ungkapan-ungkapan seperti;

"Mereka bodoh di dalam ilmu sunnah, mereka berpegang kepada cerita para guru mereka, dan mereka tetap setia kepada taqlid walaupun kebenaran telah datang di hadapan mereka."

Jarang sekali, orang-orang seperti itu mengawali pendapatnya dengan istighfar untuk dirinya dan pendapat yang akan dikritisi. Sungguh, mereka jauh dari sikap seperti yang ditunjukkan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu 'Anha, ketika mengkritik pendapat Sayyidina Abdullah ibnu Umar. Sayyidah Aisyah mengawali kritiknya dengan ungkapan;

رحم الله ابا عبد الرحمن وغفر الله له

"Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Abu Abdurrahman (Abdullah bin Umar), dan semoga selalu memberinya ampunan."

Dengan ungkapan itu, Sayyidah Aisyah menyadari bahwa pendapat Sayyidina Abdullah bin Umar walaupun dipandang "keliru" tetap berhak mendapatkan anugerah rahmat dari Allah.

Kekeliruan di dalam berpendapat, tidaklah menyebabkan terputusnya rahmat Allah kepada seseorang dan tidak pula menyebabkan jatuhnya harga diri seseorang.

Kini, di media sosial yang serba sarat dengan fitnah, umat disajikan dengan perdebatan yang saling menjatuhkan di antara masing-masing afiliasi. Semuanya mengaku berada pada sikap yang benar dan nyaris tidak ada ruang pengakuan atas kekhilafan yang telah dilakukan.

Gelar kesarjanaan dan latar belakang institusi telah mengaburkan kesadaran banyak orang, terhadap makna "inshaf". Banyak yang berpikir bahwa mengaku "keliru" akan berdampak kepada runtuhnya gengsi organisasi atau gengsi yang lainnya. Padahal, mengakui kekhilafan adalah termasuk dari bagian kecerdasan emosi. Karena pada dasarnya "no body is perfect" (tidak ada manusia yang sempurna).

Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan Rasulullah mendapatkannya sebagai titipan atas nama Allah. Imam Malik bin Anas rahimahullah telah dengan bijak menempatkan inshaf itu melalui nasihatnya:

كل يؤخذ ويترك الا صاحب هذا القبر

"Setiap orang, bisa diambil dan bisa ditinggalkan pendapatnya kecuali penghuni kubur ini (Nabi Muhammad shalla Allahu alayhi wasallam)."

Namun, ada saja orang yang melihat pendapat Imam Malik ini secara utuh. Mereka malah menggunakan pendapat Imam Malik ini untuk "menghujat" para ulama hanya karena tidak sejalan dengan selera mereka.

Sungguh malang orang yang belajar ilmu agama untuk mengungguli para ulama. Karena ilmu agama adalah amanah yang pasti akan Allah minta pertanggung jawabannya. Jika amanah itu diabaikan, sudah pasti siksa neraka yang akan menjadi hasil panen bagi mereka yang mengabaikannya. Rasulullah bersabda:

من طلب العلم ليجاري به العلماء، اوليماري به السفهاء، أو يصرف به وجوه الناس إليه ادخله اللّه النَّار
{رواه الترمذي عن كعب ابن مالك}

"Sesiapa yang menuntut ilmu agama, tujuannya agar melampaui para ulama atau mendebat orang-orang yang bodoh atau agar orang-orang berpaling kepadanya, pasti Allah masukkan ia ke dalam neraka." (Riwayat al-Tirmidzi dari Ka'ab bin Malik, hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam al-Musnad).

Maka dari itu, sudah seharusnya para pelajar ilmu agama, menyiapkan diri mereka untuk siap membawa amanah ilmu, dibandingkan mengurusi pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan mereka. Sungguh, para salaf solih lebih sering menghisab diri mereka dibandingkan menghakimi pendapat orang lain.

Wallahul muwaffiq. (Abdi Kurnia Djohan)

ISNUSA | Minggu, 30 Juni 2019

Saturday, June 29, 2019

Ngaji Kepada Gus Baha: "Ketika Allah Tersinggung"

isnusa.blogspot.com - Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya sendiri. Seolah-olah apa yang ada dalam pikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Padahal sejatinya kadang justru malah berkebalikan.

“Ini bisa membuat Allah tersinggung.” kata Gus Baha.

Gus Baha seringkali memberikan contoh tentang bagaimana Allah tersinggung bila ada hamba-Nya membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan egonya. Salah satu contohnya, Gus Baha menyebutkan dalam Shahih Muslim dikisahkan ada seorang lelaki yang merasa dirinya benar karena ibadahnya.

“Ini riwayat shahih. Tidak bisa tidak.” tegas gus Baha.

“Ada orang sedang bersujud. Sujud iku apik-apike ibadah (Sujud itu merupakan sebaik-baiknya ibadah).”

Ketika Kang Fulan ini sedang bersujud, ada seorang ahli maksiat yang menginjak kepalanya. Ketika diinjak, Kang Fulan marah. Saking marahnya, dia bilang, “Fawallahi, Laa yaghfirulllahu laka (Demi Allah, Kamu tidak akan diampuni Allah).”

Merespon kejadian itu, Allah memberi wahyu kepada seorang Nabi. “Beri tahu kepada si Fulan yang sedang sujud itu. Bilang padanya, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seorang hambaku.” Maksudnya dia membawa-bawa nama Allah karena kemarahan dalam dirinya sehingga seolah-olah Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menginjak kepalanya.

Gus Baha melanjutkan, “Beri tahu kepada si Fulan kalau Aku mengampuni orang yang menginjak kepalanya dan Aku tidak menerima sujudnya.”

Dalam hal ini, kata Gus Baha, para ulama hadis sepakat kalau Allah tidak suka namanya dicatut atau dibawa-bawa oleh orang lain. Apalagi dalam kasus ini. Mana mungkin Allah yang memiliki sifat Ghafuur (zat yang maha banyak mengampuni) kok tidak mengampuni dosa orang lain. Sedangkan si Fulan malah menuduh Allah tidak mungkin mengampuni. Ini sesuatu yang sembrono.

Betapa saat ini banyak orang yang marah entah karena apa lalu membawa-bawa nama Allah untuk menghakimi orang lain. Ini biasanya dilakukan oleh kelompok ekstrimis dan orang yang suka memvonis bid'ah. Jadi kita semua harus berhati-hati. Jangan gampang mengatasnamakan Allah untuk memenuhi ego kita.

Maka, kata Gus Baha, "Kita harus mengaji lagi agar tahu sesuatu yang benar dan yang salah.". (@nibrosuzzaman)

ISNUSA | Sabtu, 29 Juni 2019 | 13:21 WIB.

Monday, June 17, 2019

Sekelumit Tentang Sejarah Nahdhatul Ulama (NU)


Ulama-ulama Indonesia di Haromain: Embrio NU di Indonesia.

Banyak di antara kita yang kepaten obor, kehilangan sejarah, terutama generasi-generasi muda. Hal itupun tidak bisa disalahkan, sebab orang tua-orang tua kita, -sebagian jarang memberi tahu apa dan bagaimana sebenarnya Nahdlatul Ulama itu.

Karena pengertian-pengertian mulai dari sejarah bagaimana berdirinya NU, bagaimana perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan NU, bagaimana asal-usul atau awal mulanya KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU dan mengapa Ahlussunah wal Jama’ah harus diberi wadah di Indonesia ini.

Dibentuknya NU sebagai wadah Ahlussunah wal Jama’ah bukan semata-mata KH. Hasyim Asy’ari ingin berinovasi, tapi memang kondisi pada waktu itu sudah sampai pada kondisi dhoruri, wajib mendirikan sebuah wadah. Kesimpulan bahwa membentuk sebuah wadah Ahlussunah wal Jama’ah di Indonesia menjadi satu keharusan, merupakan buah dari pengalaman ulama-ulama Ahlussunah wal Jama’ah, terutama pada rentang waktu pada tahun 1200 H sampai 1350 H.

Pada kurun itu ulama Indonesia sangat mewarnai dan perannya dalam menyemarakkan kegiatan ilmiyah di Masjidil Haram tidak kecil. Misal diantaranya ada seorang ulama yang sangat terkenal, tidak satupun muridnya yang tidak menjadi ulama terkenal, ulama-ulama yang sangat tabahur fi ‘ilmi Syari’ah fi thoriqoh wa fi ‘ilmi tasawuf, ilmunya sangat melaut luas dalam syari’ah, thoriqoh dan ilmu tasawuf. Diantaranya dari Sambas, Ahmad bin Abdus Shamad Sambas. Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama-ulama besar seperti Kiyai Tholhah Gunungjati Cirebon.

Kiyai Tholhah ini adalah kakek dari Kiyai Syarif Wonopringgo, Pekalongan. Muridnya yang lain, Kiyai Syarifudin bin Kiyai Zaenal Abidin bin Kiyai Muhammad Tholhah. Beliau diberi umur panjang, usianya seratus tahun lebih. Adik seperguruan beliau diantaranya Kiyai Ahmad Kholil Bangkalan. Kiyai Kholil lahir pada tahun 1227 H. Dan diantaranya murid-murid Syekh Ahmad Sambas yaitu Syekh Abdul Qodir al-Bantani, yang menurunkan anak murid, yaitu Syekh Abdul Aziz Cibeber dan Kiyai Asnawi Banten.

Ulama lain yang sangat terkenal sebagai ulama ternama di Masjidil Harom adalah Kiyai Nawawi al-Bantani. Beliau lahir pada tahun 1230 H dan meninggal pada tahun 1310 H bertepatan dengan meninggalnya mufti besar Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Ulama Indonesia yang lainnya yang berkiprah di Masjidil Harom adalah Sayyid Ahmad an-Nahrowi al-Banyumasi. Beliau diberi umur panjang, beliau meninggal pada usia 125.

Tidak satupun pengarang kitab di Haromain; Mekah-Madinah, terutama ulama-ulama yang berasal dari Indonesia yang berani mencetak kitabnya sebelum ada pengesahan dari Sayyid Ahmad an-Nahrowi al-Banyumasi.

Syekh Abdul Qadir al-Bantani murid lain Syekh Ahmad bin Abdus Shamad Sambas, yang mempunyai murid Kiyai Abdul Lathif Cibeber dan Kiyai Asnawi Banten. Adapun ulama-alama yang lain yang ilmunya luar biasa adalah Sayyidi Syekh Ubaidillah Surabaya. Beliau melahirkan ulama yang luar biasa yaitu Kiyai Abu Ubaidah Giren Talang Tegal (Ponpes Attauhidiyyah), terkenal sebagai Imam Asy’ari-nya Indonesia. Dan melahirkan seorang ulama auliya besar, Sayyidi Syekh Muhammad Ilyas Sokaraja. Guru dari guru saya Sayyidi Syekh Muhammad Abdul Malik.

Yang mengajak Syekh Muhammad Ilyas muqim di Haromain yang mengajak adalah Kiyai Abu Ubaidah tersebut, di Jabal Abil Gubai, di Syekh Sulaiman Zuhdi. Diantara murid-muridnya lagi di Mekah adalah Sayyidi Syekh Abdullah Tegal. Lalu Sayyidi Syekh Abdullah Wahab Rohan Medan, Sayyidi Syekh Abdullah Batangpau, Sayyidi Syekh Muhammad Ilyas Sukaraja, Sayyidi Syekh Abdul Aziz bin Abdush Shamad al-Bimawi, dan *Sayyidi Syekh Abdullah dan Sayyidi Syekh Abdul Manan, tokoh pendiri Termas sebelum Kiyai Mahfudz dan sebelum Kiyai Dimyati.*

Di jaman Sayyidi Syekh Ahmad Khatib Sambas ataupun Sayyidi Syekh Sulaiman Zuhdi, murid yang terakhir adalah Sayyidi Syekh Ahmad Abdul Hadi Giri Kusumo daerah Mranggen.

Inilah ulama-ulama indonesia di antara tahun 1200 H sampai tahun 1350. Termasuk Syekh Baqir Zaenal Abidin Jogja, Kiyai Idris Jamsaren, dan banyak tokoh-tokoh pada waktu itu yang di Haromain.

Seharusnya kita bangga dari warga keturunan bangsa kita cukup mewarnai di Haromain, beliau-beliau memegang peranan yang luar biasa. Salah satunya guru saya sendiri Sayyidi Syekh Abdul Malik yang pernah tinggal di Haromain dan mengajar di Masjidil Haram khusus ilmu tafsir dan hadits selama 35 tahun. *Beliau adalah muridnya Syekh Mahfudz at-Turmudzi.*

Mengapa saya ceritakan yang demikian, kita harus mengenal ulama-ulama kita dahulu yang menjadi mata rantai berdirinya NU. Kalau dalam hadits itu betul-betul tahu sanadnya, bukan hanya katanya-katanya saja. Jadi kita harus tahu dari mana saja ajaran Ahlussunah wal Jama’ah yang diambil oleh Syekh KH. Hasyim Asy’ari.

Bukan sembarang orang tapi yang benar-benar orang-orang tabahur ilmunya, dan mempunyai maqomah, kedudukan yang luar biasa. Namun sayang peran penting ulama-ulama Ahlussunah wal Jama’ah dil Haromain pada masa itu (pada saat Syarif Husein berkuasa di Hijaz), khususunya ulama yang dari Indonesia tidak mempunyai wadah. Kemudian hal itu di pikirkan oleh KH. Hasyim Asy’ari disamping mempunyai latar belakang dan alasan lain yang sangat kuat sekali.

Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Harom, -ini sudah tidak tertulis dan harus dicari lagi narasumber-narasumbernya. Beliau-beliau menyimpulkan sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran Ahlussunah wal Jama’ah. Akhirnya diistikhorohi oleh para ulama-ulama Haromain, lalu mengutus KH.

Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua orang di Indonesia. Kalau dua orang ini mengiyakan jalan terus, kalau tidak jangan diteruskan. Dua orang tersebut yang pertama Habib Hasyim bin Umar bin Thoha bin Yahya Pekalongan, yang satunya lagi Mbah Kholil Bangkalan.

Oleh sebab itu tidak heran jika Mukatamar NU yang ke-5 dilaksanakan di Pekalongan tahun 1930 M untuk menghormati Habib Hasyim yang wafat pada itu. Itu suatu penghormatan yang luar biasa. Tidak heran kalau di Pekalongan sampai dua kali menjadi tuan rumah Muktamar Thoriqoh.

Tidak heran karena sudah dari sananya, kok tahu ini semua sumbernya dari mana? Dari seorang yang sholeh, Kiyai Irfan. Suatu ketika saya duduk-duduk dengan Kiyai Irfan, Kiyai Abdul Fatah dan Kiyai Abdul Hadi. Kiyai Irfan bertanya pada saya: “Kamu ini siapanya Habib Hasyim?”. Yang menjawab pertanyaan itu adalah Kiai Abdul Fatah dan Kiai Abdul Hadi: “Ini cucunya Habib Hasyim Yai”.

Akhirnya saya diberi wasiat: “Mumpung saya masih hidup tolong catat sejarah ini. Mbah Kiyai Hasyim Asy’ari datang ke tempatnya Mbah Kiyai Yasin, Kiyai Sanusi ikut serta pada waktu itu. Di situ diiringi oleh Kiyai Asnawi Kudus, terus diantar datang ke Pekalongan. Lalu bersama Kiyai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asy’ari duduk, Habib Hasyim langsung berkata: “Kyai Hasyim Asy’ari, silakan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah Ahlussunah wal Jama’ah. Saya rela tapi tolong saya jangan ditulis.”

Itu wasiat Habib Hasyim, terus Kiyai Hasyim Asy’ari merasa lega dan puas. Kemudin Kiyai Hasyim Asy’ari menuju ke tempatnya Mbah Kiyai Kholil Bangkalan. Kemudian Mbah Kiyai Kholil bilang sama Kiyai Hasyim Asyari: “Laksanakan apa niatmu saya ridho seperti ridhonya Habib Hasyim tapi saya juga minta tolong nama saya jangan ditulis.”

Kata Kiyai Hasyim Asy’ari ini bagaimana Kiyai, kok tidak mau ditulis semua. Terus Mbah Kiyai Kholil menjawab: “Kalau mau tulis silakan tapi sedikit saja.” Itu tawadhu’nya Mbah Kiyai Ahmad Kholil Bangkalan. Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur.

Inilah sedikit perjalanan Nahdlatul Ulama (NU). Inilah perjuangan pendiri Nahdlatul Ulama. Para pendirinya merupakan tokoh-tokoh ulama yang luar biasa. Makanya hal-hal yang demikian itu tolong ditulis. Agar anak-anak kita itu tidak terpengaruh oleh yang tidak-tidak, sebab mereka tidak mengetahui sejarah. Anak-anak kita saat ini banyak yang tidak tahu, apa sih NU itu? Apa sih Ahlussunah wal Jama’ah itu? Lha ini permasalahan kita.

Upaya pengenalan itu yang paling mudah dilakukan adalah dengan memasang foto-foto para pendiri NU, khususnya foto Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari.

-Penuturan Maulana Habib Lutfi Bin Ali bin Hasyim bin Yahya-

Dari akun Hubbul Wathon Minal Iman (FB)

Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia


Tanggapan Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.

Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU. Padahal negara muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun.

Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Tragisnya, bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU.

Tidak dipungkiri gagasan “Islam Nusantara” bisa menjadi magnet besar dalam membangun besarnya kekuatan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Islam Nusantara bukanlah Agama baru seperti yang dituduhkan oleh para pembenci NU.

Dan oleh media-media pembenci NU, itu dijadikan lahan untuk menghancurkan NU dari dalam seolah-olah NU telah diboncengi oleh Liberal, Syiah, dan Wahabi. Padahal telah jelas dan disepakati oleh ribuan ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren serta majelis ta’lim di seluruh Indonesia bahwa tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang adalah “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin.

Cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia dan negara-negara muslim yang menjadi sasaran konflik antarumat Islam karena tidak adanya persatuan diantara mereka.

Kita tidak menginginkan Indonesia seperti mereka, berapa juta umat Islam yang mati mengenaskan akibat konflik di negara-negara tersebut ?

Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita walisongo. Islam nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab.

Saat ini istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya.

Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.
Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasuth (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik.

Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun.

Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Syuriah PBNU    Pusat menjelaskan, “Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

Beliau melanjutkan, “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik,. Kalau saja wali songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini”.

Beliau berpesan bahwa inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini, itulah mengapa dalam setiap ceramah beliau akhir-akhir ini sering membahas tentang upaya mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.

Indonesia itu menurut beliau, tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia, “Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk".

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.

“Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkrit. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.

Rais Am Syuriah PBNU Pusat Dr. HC. KH. Ahmad Musthofa Bisri menjelaskan, “Kalau Islam diidentikkan dengan Arab, Abu Jahal juga orang Arab, dia memakai sorban dan jubah. tentu ketika kita memakai jubah dan sorban semata mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bukan mengikuti budaya Arab".

Lebih lanjut Mustasyar PBNU Pusat Syaikhuna wa Murobbi Rukhina KH. Maimun Zubair menjelaskan. “Bangsa Arab itu mulia karena adanya Islam, maka Indonesia pun akan mulia dengan adanya Islam”.

Saat ini negara-negara Muslim di dunia sedang melirik Islam di Indonesia, mereka manyatakan diri perlu belajar banyak dari Indonesia, bagaimana bisa negara besar dengan berbagai suku, agama, ras, adat istiadat bisa damai dan tentram tanpa ada konflik horizontal berkepanjangan ?

Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman.
Generasi Millenial Ahlussunah Waljamaah NU (FB)

Friday, May 11, 2018

Kisah Kiai Djazuli Mendidik Gus Miek

Biografi | Kisah Kiai Djazuli Mendidik Gus Miek

Kiai Jazuli Utsman, sang pendiri Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri mempunyai putra-putra yang sholeh. Salah satunya adalah KH Chamim Jazuli , biasa dipanggil Gus Miek. Semasa mengandung Gus Miek, Ibu Nyai Rodhiyah mengalami peristiwa dan mimpi yang luar biasa yang tidak dialami sebelumnya.

Ketika mau melahirkan Gus Miek, Ibu Nyai menerima tamu tak dikenal dan menyerahkan gabah (padi) yang sangat banyak untuk menyambut lahirnya Gus Miek. Ini menandai bahwa kelak akan banyak orang yang menyerahkan harta bendanya kepada Gus Miek dalam rangka ikut serta membantu berdakwah. Banyak kisah-kisah lain yang menyertai Gus Miek ketika masih di dalam kandungan.

Tatkala sekolah di SR (Sekolah Rakyat), Gus Miek itu murid yang suka bolos. Ibunya sering mencarinya, tetapi Gus Miek sering berkilah dan bersembunyi. Karena saking seringnya, Ibu Nyai Rodhiyah akhirnya memahami perilaku yang berbeda dari dalam diri anaknya. Ketika ngaji di Madrasah, Gus Miek hanya sampai kelas pertengahan Alfiyah. Kiai Jazuli akhirnya membuat syukuran Alfiyah, karena Gus Miek yang jarang ngaji bisa hafal Alfiyahnya.

Kiai Hasyim Asy’ari Tandai Keulamaan Kiai Jazuli Ploso Kediri Syukuran ini tidak dilakukan Kiai Jazuli kepada anaknya yang lain, karena merasa Gus Miek ini berbeda. Jarang ngaji, sering bolos, dan suka main, tetapi Alfiyahnya bisa khatam.

Ketika belajar al-Quran, Gus Miek pertama-tama mengaji kepada ibunya, Nyai Rodhiyah. Kemudian dilanjutkan ngaji bersama Ustadz Hamzah. Baru mendapatkan satu juz, Gus Miek sudah minta khataman.
Iya, putra Kiai Jazuli bernama Gus Miek ini memang beda perlakuannya. Kiai Jazuli mau ngaji kalau putra-putra sudah berkumpul, kecuali Gus Miek. Walaupun Gus Miek bermain dan kluyuran, Kiai Jazuli tetap membiarkannya. Padahal, dengan anaknya yang lain, Kiai Jazuli bisa marah kalau ada yang tidak ngaji.

Suatu hari, Kiai Jazuli menyuruh Gus Miek untuk ngaji. Ternyata, Gus Miek hanya memanggul kitab dan mengelilingi Kiai Jazuli sebanyak tiga kali. Kemudian Gus Miek mengatakan bahwa dirinya telah mempelajarinya, lalu pergi. Kiai Jazuli hanya diam dan tersenyum.

Kiai Jazuli sangat memahami pola hidup yang terjadi dalam diri putranya, Gus Miek. Kiai Jazuli tahu bahwa Gus Miek sudah masuk dunia tasawuf sejak masih dalam kandungan. Ibu Nyai sendiri juga membiarkan Gus Miek dengan gayanya sendiri, karena sadar bahwa Gus Miek mempunyai kelebihan yang berbeda dibanding yang lain. Para kiai sepuh juga memberikan saran dan masukan terkait Gus Miek, sehingga Kiai Jazuli bisa memaklumi Gus Miek.

Di samping itu, para santri sering melaporkan ihwal keanehan yang terjadi dalam keseharian Gus Miek.
Dari sini, Kiai Jazuli mendidik Gus Miek dengan caranya sendiri, berbeda dengan anaknya yang lain. Gus Miek ini pribadi yang sudah istimewa sejak dalam kandungan.
___________
-dari akun Jacky (FB)-

Wednesday, May 9, 2018

ASWAJA : Pandangan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin 'Ali bin Yahya

Islam Nusantara | Penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya

Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya mengatakan: Yang dimaksud Islam Nusantara yaitu; menjaga tradisi Islam Nusantara atau amaliyah Islam Nusantara yang dibawa oleh para Wali Songo,  oleh Ulama-ulama pendahulu  serta sampai para pedagang yang datang ke Nusantara ini sambil Berdakwah menyebarkan Islam dengan caranya masing-masing 
seperti Tahlilan, Rotiban, Maulid Nabi atau Mauludan, Ziarah Kubur, Haul, Peringatan Nisyfu Sa'ban, Perigatan Nuzulul Qur'an dan masih banyak lagi. Dan itu adalah merupakan amaliyah ASWAJA (Ahlussunnah Waljama'ah) yang Khas  Indonesia atau Khas Nusantara.


Jadi, Kalau 
 ada kelompok yang tidak suka bahkan benci terhadap amalan-amalan "ASWAJA" yang  disebutkan tadi.
Lihat Arab Saudi. Dahulu arab saudi seperti Indonesia,  dipegang oleh ulama-ulama dan para habib Aswaja,  semua amaliyah di arab saudi sama persis dengan Indonesia ada Rotiban, Mauludan, Tahlilan, Ziarah Kubur, Haul.
Namun lihat sekarang arab saudi berubah. Semua amalan-amalan Aswaja dihilangkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekarang dikuasai oleh Wahhabi. Serta
 para habib serta Ulama Aswaja di Arab Saudi dibunuh. Maqom-maqom para wali Allah dihancurkan, bahkan maqom Nabi Saw juga SEMPAT AKAN DIBONGKAR.

Alhamdulillah waktu itu NU mengirimkan ulamanya ke arab saudi untuk berdebat langsung. Yang menolak dan melarang pembongkaran maqom Nabi Saw yg waktu itu disebut Tim Hijaz dan Islam Nusantara juga bertujuan melindungi serta menjaga Maqom-maqom para Wali Allah yang ada di Nusantara ini supaya tetap terjaga. Jangan sampai seperti arab Saudi, Maqom-maqom para Wali Allah dihancurkan bahkan rumah Nabi Saw sekarang diarab saudi dihancurkan dan dijadikan toilet umum.

Oleh karena itu jangan ber-perasangka buruk bahkan sampai berani memvonis sesat, menyesatkan, murtad, kafir. Jadi sudah jelas Islam Nusantara itu menjaga dan melindungi amaliyah-amaliyah Aswaja atau tradisi-tradisi Aswaja yang ada di Nusantara ini serta melindungi maqom-maqom para Wali Allah di Nusantara ini. Semoga kita semua dibersihkan hatinya oleh Allah SWT yang maha berkasih Sayang dan jangan ikut-ikutan mengkafir-kafirkan serta menyesat-nyesatkan (yang lainnya).

Isnusa | 10 Mei 2018

Monday, May 7, 2018

BANTAHAN ATAS FITNAH DAN TUDUHAN KEPADA KYAI SAID AQIL SIRADJ


Klasifikasi atas tuduhan kepada Kiyai Said Agil Siroj


Habib Umar bin Husein Assegaf, Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Kekerasan dan Intoleransi (GENERASI)
"Janganlah kebencian mu kepada suatu kaum menjadikanmu berlaku tak adil", dialog yang cerdas antara Syeikhul Azhar dan Kang Said terlihat jelas bahwa mereka tidak ada saling menegasi, tidak saling mengagresi dan tidak saling merendahkan satu dengan yang lain karena keduanya adalah Ulama yang berwawasan luas, moderat, tawadhuw' dan berakhlaq mulia.

Pembuat potongan video kunjungan Syeikhul Azhar ke Kantor PBNU yang di viralkan itu tidak jujur dalam mengutip poin-poin pembicaraan Kyai Said Aqil Siradj seperti yang dihilangkan dan tidak diterjemahkan adalah ucapan Kyai Said tentang Nasionalisme Arab yang rapuh, absurd dan tidak Islami yang diusung oleh seorang Arab beragama Nasrani Michel Aflaq dan gaung Sosialisme dan Nasionalisme Arab mendapat tempat dan dukungan secara luas kala itu.

Kang Said menjelaskan Islam Nusantara adalah bukan sesuatu yang baru, Islam Nusantara hanyalah sebuah typologi bukan aliran atau mazhab tetapi adalah intisari Islam itu sendiri. Islam Nusantara adalah Islam Washatiyah yaitu Islam moderat (bukan fanatik) dan Islam jalan tengah, tentu penjelasan Kang Said ini mendapat apresiasi oleh Syeikhul Azhar.

Islam di Nusantara khususnya Indonesia adalah Islam yang menggabungkan Nasionalisme dengan keimanann (Islam) sebagaimana yang gariskan oleh pendiri NU Hadratussyeikh Allamah Hasyim Asy'ari Hubbbul Wathon Minal Iman bukan Islam yang memisahkan antara Nasionalisme dengan keIslaman seperti keinginan Bapak Pendiri Nasionalisme dan Sosialisme Arab Michel Aflaq. Ucapan yang terkenal dari Michel Aflaq adalah Islam adalah bagian kecil dari kebudayaan Arab yang besar padahal Arab memiliki kehormatan, memiliki peradaban yang gemilang karena hadirnya Islam dan bukan sebaliknya.

Tuduhan dan fitnah yang dialamatkan kepada Kyai Said sebagai anti Arab selain tidak tepat juga tidak menemukan urgensi dan korelasinya karena beliau adalah seorang penuntut ilmu yang pernah sekolah di negeri Arab, belajar Islam dari literatur bahasa Arab, memiliki guru-guru orang Arab dan beliau sendiri adalah keturunan Arab.

Kyai Said mengatakan Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah Islam Nusantara atau dengan kata lain Islam Washotiyah bukan Islam "Arab". Yang dimaksud bukan Islam Arab adalah Islam yang sekarang ini dipromosikan oleh kelompok ekstrem yang dalam perjuangannya mengangkat senjata dan menghalalkan darah sesama kaum muslimin. Bukan Islam "Arab" yang dimaksud Kyai Said adalah sebuah fenomena kekinian, sekelompok orang yang berislam dengan menonjolkan atribut-atribut, yang mudah menyesatkafirkan sesama ahlul qiblah (takfirisme), kelompok yang paling mengaku Islam tetapi jauh dari nilai-nilai Islam seperti ciri-ciri mereka yang kita kenal hari ini mereka sangat intoleran, gemar sebarkan fitnah dan adu-domba sesama kaum Muslimin.

Ala kulli hal marilah kita berfiikr rasional dan bukan mendahulukan kebencian-kebencian karena hanya berbeda pendapat karena kebencian tidak akan membawa kebaikan tetapi akan membawa kehancuran dan perpecahan-perpecahan.Wallahu A'lam Bishowab.


 Idawamul Ngula (FB) | Bandung, 07 Mei 2018.

Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi