Islam Nusantara: NASIHAT ADAB & AKHLAK
Showing posts with label NASIHAT ADAB & AKHLAK. Show all posts
Showing posts with label NASIHAT ADAB & AKHLAK. Show all posts

Saturday, July 6, 2019

KESABARAN KH. HASYIM SHOLEH DIUJI SANG MURSYID (GUS MIEK)

ISNUSA - Salah satu alasan mengapa Majelis Sema’an Al Qur'an dan Dzikrul Ghofilin bisa berkembang pesat dan tersebar luas adalah karena Gus Miek mempunyai pengikut, santri, karib dari kalangan Kiai-kiai ternama di daerah–daerah, yang dengan ikhlas lahir bathin siap mengembangkan majelis ini.

Salah satu "tangan kanan" Gus Miek adalah KH. Hasyim Sholeh. Masyarakat sekitar kerap memanggilnya Mbah Hasyim Mayak (Mayak, merujuk pada nama dukuh/desa) Pendiri Pondok Pesantren Darul Huda, Ponorogo yang hingga kini dibuat ngangsu kaweruh ribuan santri. Kesiapan lahir bathin tersebut salah satunya bisa disimpulkan dari cerita berikut:

Kisah ini penulis dapat ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Darul Huda, Ponorogo, pada suatu forum mengaji yang diampu oleh Gus Sami’ (Putra KH. Hasyim Sholeh). Beliau bercerita dengan intonasi yang lembut nan khas.

Di saat majelis sima’an Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin masih terpusat di daerah Kediri, banyak jemaah dari luar kota yang berbondong–bondong menghadiri majelis tersebut, tak terkecuali rombongan dari Ponorogo yang dipimpin KH. Hasyim Sholeh. Pada suatu momen sima’an, Gus Miek melihat rombongan Ponorogo kian bertambah banyak. Gus Miek menilai sudah saatnya Ponorogo mendirikan majelis sendiri. Dipanggillah Mbah Hasyim menghadap.

“Kiai, njenengan saya amanahi merintis sima’an di Ponorogo ya?” pinta Gus Miek.

“Iya, Kiai.” Jawab Mbah Hasyim dengan penuh ta’dzim.

“Njenengan cari waktu yang sesuai, nanti saya sendiri yang akan meresmikan.”

“Iya,  TimpKiai.”al Mbah Hasyim sekali lagi.

Waktu yang direncanakan pun telah tiba. Bertempat di depan kediaman Mbah Hasyim, para jemaah berkumpul membentuk lingkaran dengan sebuah tumpeng di tengahnya. Majelis hanya tinggal menunggu kedatangan Gus Miek.

Waktu terus berjalan namun Gus Miek tak kunjung datang. Jemaah pun mulai resah termasuk Mbah Hasyim selaku shohibul hajat. Setelah dirasa Gus Miek tidak datang, jemaah pun satu persatu pamit pulang dengan memendam rasa kecewa, tak terkecuali Mbah Hasyim sendiri.

Di kesempatan sima’an selanjutnya, Mbah Hasyim tetap berangkat. Kekecewaan lantaran tidak hadirnya Gus Miek dalam rencana peresmian majelis tempo hari tak membuatnya patah hati. Setelah majelis selesai, Gus Miek memanggil Mbah Hasyim yang berada di tengah rombongan Ponorogo.

“Mohon maaf kiai, kemarin berhalangan hadir, njenengan cari waktu lagi ya? Oh iya, sekalian siapkan pengeras suara yang bagus.” Pinta Gus Miek dengan nada mantap dan lugas.

“Iya, Kiai.” jawab Mbah Hasyim sembari berharap semoga kali ini benar–benar bisa datang.

Waktu peresmian telah tiba. Seperti biasanya, jemaah melingkar dan sebuah tumpeng berada di tengah lingkaran. Kali ini terdapat pengeras suara yang lebih besar dari sebelumnya. Semua sudah siap, tinggal menunngu sang Mursyid tunggal Dzkirul Ghofilin. Namun sang guru belum juga tiba. Mbah Hasyim berharap cemas dan tak ingin kembali mengecewakan para jemaah.

Tapi kenyataan berkata lain. Mbah Hasyim kembali kecewa, karena ternyata sang guru tidak hadir hingga majelis bubar. Di tengah malam yang sunyi, Mbah Hasyim keluar rumah dan berjalan menyusuri pinggiran jalan raya sambil sesekali meneteskan air mata.

“Apa sebenarnya diinginkan Gus Miek?"

"Apakah aku melakukan kesalahan hingga membuat beliau tidak mau hadir?"

"Ataukah Tuhan belum menghendaki majelis ini berdiri di Ponorogo?” bathin-nya terus bergejolak.

Di tengah gejolak hatinya, sebuah mobil lewat dari arah belakang mbah Hasyim. Mobil ber-plat "N1CA" itu tak lain dan tak bukan adalah mobil Gus Miek. Mobil itu berjalan pelan sendirian di tengah jalan. Seakan ingin menunjukan bahwa sebenarnya Gus Miek memang telah berada di Ponorogo dan sengaja tidak menghadiri kegiatan peresmian.

Pada kesempatan sima’an selanjutnya, Mbah Hasyim memantapkan hatinya untuk berangkat ke Kediri, seakan hatinya tegas berkata, “Ada atau tidak adanya majelis sima’an di Ponorogo tak akan menyurutkan semangatku untuk istiqomah hadir di majelis sima’an”. Pasca majelis selesai, seperti biasa mbah Hasyim dipanggil gus Miek.

“Mohon maaf Kiai, kemarin tidak bisa hadir. Njenengan kumpulkan lagi jemaah yang banyak, kali ini hukumnya wajib saya hadir.” pinta Gus miek dengan senyum ramah seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Iya, Kiai.” timpal Mbah Hasyim lirih.

Kali ini dibenaknya hanya pasrah, ini semua diniati semata mencari berkah sang guru.

Waktu yang ditunggu telah tiba. Kali ini selain tumpeng yang lebih besar, jemaah pun lebih banyak sesuai permintaan Gus Miek. Semua yakin dan mantab kali ini Gus Miek benar-benar bisa hadir. Namun harapan itu ternyata sirna. Gus Miek benar-benar tidak hadir untuk ketiga kalinya. Jemaah pun bubar. Tak ada peresmian malam itu. Tengah malam, mbah Hasyim berjalan menyusuri jalan, untuk sekedar meluapkan kesedihannya. Air matanya menetes. Dalam hatinya bermunajat,

“Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk menghadapi cobaan-Mu, semua yang hamba jalani semata hanya untuk meraih ridha-Mu.”

Di tengah kegalauannya, di jalan yang sama seperti yang lalu, Mbah Hasyim melihat ada mobil lewat di sampingnya. Mobil sang guru berjalan pelan dan berhenti. Kaca depan mobil itu terbuka dan wajah sang guru keluar di balik kaca mobil sembari melontarkan satu kalimat.

“Gimana, Kiai? Enak to?” dawuh Gus Miek dengan tersenyum tipis.

Setelah itu, mobil melaju kencang. Mbah Hasyim menunduk dan mengelus dada dengan perasaan campur aduk antara sedih, kecewa, dan pasrah. Konon di pertemuan selanjutnya Gus Miek berbicara empat mata dengan mbah Hasyim yang intinya serangkaian kejadian kemarin hanya sebuah ujian kecil dari sang guru.

“Kalau mau marah tidak perlu belajar, kecuali sabar, itu butuh belajar.” begitu pesan Gus Miek.

Singkat cerita sima’an mantab akhirnya diresmikan langsung oleh Gus Miek. Meskipun terdapat berbagai hambatan di awal berdirinya, namun berkat bekal ujian kesabaran dari SANG GURU, dan kegigihan sang murid serta atas ridha-Nya, seperti yang kita ketahui majelis sima’an Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Majelis ini ibarat oase di tengah keringnya aspek spiritual di kalangan masyarakat.
Kagem Beliau berdua, Al-faatihah.

Fathan Zainur Rosyid | Sabtu, 29 Juni 2019 | 16.40 WIB.

HUMOR GUS DUR : "Kiai dan Tiang Listrik"

ISNUSA - Humor ini cukup populer, berkat Gus Dur tentunya. Gus Dur melontarkan humor ini untuk menjelaskan bagaimana kiai tidak main-main dengan satu prinsip syariat Islam: maslahah, tentang kebaikan umat banyak.

Suatu hari Gus Dur berada dalam satu mobil dengan Kiai-kiai. Ada lima sampai enam orang Kiai. Mobil ber-AC. Tidak ada yang merokok, kecuali satu kiai. Kiai ini, sebut saja Kiai Ahmad. Karena kebiasaannya merokok, maka akhirnyapun beliau merokok.

Agar tidak mengganggu yang lain, Kiai Ahmad membuka jendel kaca. Dan di situlah tangan kiri Kiai Ahmad nyelonong keluar, memegang rokok yang telah di sulutnya. Tapi ada  seorang kiai yang tetap keberatan dengan sikap Kiai Ahmad yang Merokok ini. Kemudian beliau pun menegur Kiai Ahmad,

“Kiai, tahan dululah. Sejam lagi sampai kita. Di sana kita merokok.”
Kiai Ahmad yang ditegur diam saja.

“Kiai, mending matikan saja rokoknya. Dan tutup jendelanya. Bahaya juga kalau ada tiang listrik, tangan Sampean patah nanti,” seorang kiai yang keberatan menakut-nakuti Kiai Ahmad. Tapi Kiai Ahmad cuek.

Akhirnyapun Kiai yang keberatan tersebut melaporlah ke Gus Dur. Lalu Gus Dur yang duduk di depan bicara lirih,

“Bilang ke Kiai Ahmad, tangan dia kalau nabrak tiang listrik, bisa roboh tiangnya. Kalau roboh, mati lampu tiga kecamatan.”

Lalu disampaikanlah pesan Gus Dur itu ke Kiai Ahmad. Tanpa babibu, Kiai Ahmad mematikan rokok, memasukkan tangannya, dan menutup jendela.

Gus Dur menyampaikan pesan setelah bercerita, 

“Itulah kiai, tidak terlalu memperhatikan keselamatan dirinya, tapi kalau kemaslahatan umat, kiai tidak main-main. Kita harus pandai-pandai bicara dengan kiai.” (@ulama.nusantara)

ISNUSA | Senin, 01 Juli 2019 | 01.20 WIB.

Gus Baha' : "Perlunya Ilmu Mantiq dalam Mengenal Allah"

ISNUSA - Keinginan setan adalah agar manusia senantiasa tidak berpikir dengan selalu hidup bersenang-senang. Dengan menjalani kehidupan yang penuh kesenangan seketika akan membawa manusia untuk malas mencari tahu tentang siapa Tuhannya.

Inilah yang menjadi sebab utama munculnya faham nihilism, atheism yang sepertinya sangat kritis dan selalu mengedepankan logika dalam pola pikirnya kendatipun tak pernah menemukan bukti tentang keberadaan Tuhan.

Tujuan utama mengaji adalah mengenalkan seseorang terhadap Allah (Tuhan) dengan akal sehat. Kekeliruan yang kerap dilakukan para 'ulama adalah memulai dengan mengenalkan sebutan Allah tanpa memberi pemahaman logis tentang esensi Tuhan yang dapat diterima oleh mereka.

KH. Bahauddin Nur Salim atau yang seringkali hanya dikenal dengan sebutan Gus Baha’ dalam suatu pengajian mengatakan bahwa,

“Dalam ilmu mantiq yang diajarkan di pondok-pondok pesantren tidak pernah menyebutkan Allah, yang disebutkan adalah bahwa alam ini makhluk (ciptaan). dan setiap makhluk memerlukan Kholik (pencipta) untuk dapat menjadi ada. Alam ini adalah sebuah akibat, dan sebagai akibat akan selalu butuh sebab”.

Lalu Gus Baha menjelaskan bahwa, Sebab ini kita sebut musabibul asbab. Artinya sebuah ‘Sebab’ harus ada sebelum yang disebabi atau ‘Akibat’ itu sendiri ada.

“Wujud yang sekarang kita kenal ini membutuhkan penyebab atau yang kita kenal sebagai Wajibil Wujud atau wujud superior. Semua itu oleh Islam disebut dengan nama Allah”, papar kiai penekun tasawuf ini lebih lanjut.

Akal manusia hanya sampai pada rumusan bahwa alam ini butuh penyebab, yang oleh Einsten dan pemikir-pemikir modern dikenal dengan ‘Causa Prima’.

Maka menurut santri kesayangan Mbah Moen Sarang (KH. Maimoen Zubair) ini ilmu mantiq ala pesantren sangat penting agar kita tidak sering keliru dalam merekonstruksi bangunan tauhid dalam logika yang menjadi landasan penting dalam mengenal Allah melalui sifat-sifatnya.  (@ulama.nusantara)

ISNUSA | Senin, 01 Juli 2019 | 01.13 WIB.

Tuesday, July 2, 2019

Setan diantara Shaf Sholat Jama'ah

Isnusa.blogspot.com - "Gegara komen di status Wan Abd. Rasyid soal sholat mengangkang. Jum'atan kemarin aku kena karmanya."

Sampingku adalah anak muda trendi dengan celana pensil, khas generasi milenial syari'ah usia 20-an tahun. Ia mengisi shaf sebelah kiriku karena kosong.

Ketika imam meminta meluruskan shaf, jenthik kakinya menyentuh jenthik kakiku.  Karena risih,  ya aku kasih jarak sedikit, padahal lenganku sudah berhimpitan mesra dengan lengannya.

Takbiratul ihrom aman. Baru ketika kami mengamini Fatihah imam,  jenthiknya krugel-krugel (bergerak seperti ulat) mengejar jenthikku.  Sambil badannya tampak goyang-goyang maju mundur.

Sumpah..
Ketimbang anak-anak kecil dikampunku yang usil mainan beduk saat traweh,  anak muda sampingku ini jauh lebih mengganggu. Karena jenthiknya krugel-krugel terus tidak hanya menyentuh.
Tetapi disaat jenthikku lari,  aku sudah sedih dengan sholatku yang blas ra bermutu ini. Dan kemudian ini berlanjut lagi di rokaat kedua.

"Anak ini sepertinya sholatnya lebih takut dihadiri setan di kakinya,  ketimbang hadirnya Tuhan di fikirannya."

Sholat jumatku yang hadir malah jenthik kaki anak ini.  "Ya Allah, bocah ini tidak memberi ruang kepada setan dikakinya, tapi menghadirkannya di kepalaku."

"Tolong bro.."

"Bagi sampeyan yang mesra jenthiknya, ketimbang hati sebelahnya. Hargailah! Karena terkadang ada orang-orang yang risih dengan jenthik yang krugel-krugel seperti itu. Jangan hadirkan setan dalam  fikiran kami."
Itu..  Cuk.. 
(Kang Adang Legowo FB)


ISNUSA | Sabtu, 29 Juni 2019 | 11.03 WIB.

Friday, June 28, 2019

AQIDAH PARA DARWIS

Aqidah para Darwish dan madrasah Syamiyah dalam ilmu kalam dan filsafat.

Syeikh Said Hawwa dulunya adalah seorang yang sangat menyukai ilmu logika dan filsafat barat. Kehidupan ilmiyahnya dikampus selalu dipenuhi dengan filsafat dan Ghazwul Fikr (perang pemikiran). Tetapi makin dia mendalami berbagai pemikiran beliau makin gelisah, beliau tidak menemukan ketenangan, padahal beliau mempelajari berbagai pemikiran di dunia bertujuan untuk membela aqidah Islam dan menjawab syubhat-syubhat yang dilemparkan lawan pada islam.

Hasilnya?!
Hidup beliau begitu hampa.

Sampai suatu hari beliau datang ke Jami' Taubah untuk hadir di majlis hadrah Sidi Muhammad Al-Hasyimi, seorang ulama dan wali besar negeri Syam ketika itu, mursyid tareqat Syadziliyah yang sudah meninggalkan kehidupan dunia, bergaya hidup dipenuhi kezuhudan, jauh dari kemewahan, sebagaimana para darwish. Tapi entah kenapa Syeikh Said Hawwa merasakan kebahagian ruhaniyah yang luar biasa bersama beliau.

Syeikh Said Hawwa mulai sering mengunjungi majlis beliau. Setiap kali beliau panat dengan dunia perang pemikiran beliau hadir di majlis hadrah. Yang membuat beliau takjub adalah ketika ada permasalahan yang beliau tidak ketemu jawabannya tentang pemikiran modern beliau bertanya pada Sidi Al-Hasyimi dan Syeikh Al-Hasyimi ini bisa memberi jawabannya.

Beliau tidak menyangka bahwa seorang darwish yang terkesan kampungan dan tidak peduli pada dunia ini memiliki literasi sangat tinggi pada pemikiran dan filsafat modern jauh lebih memahaminya melebihi dirinya yang sehari-hari terlihat selalu berkutat dengan hal tersebut.

Ini membuat beliau makin kagum dan berubah pandangan pada para darwish dimana para darwish selama ini hanya dianggap sebagai tempat ngalap berkah, namun ternyata mereka memahami perkembangan pemikiran modern melebihi orang-orang dikampus. Hanya saja mereka menganggap itu hanya sebagai obat untuk penyakit, sedangkan aqidah dan jalan menuju tuhan dan mencapai kebahagian islam sebenarnya dari jalan para darwish ini.

Mulai sejak itu kita melihat Syeikh Saidaid Hawwa berubah total, buku-buku beliau pada masa akhir hidupnya dipenuhi dengan ajaran Tasawuf para darwish, bahkan buku pemikiran sekalipun didasari ilmu Tasawuf.

Inilah madrasah Syamiyah dalam pembinaan aqidah, aqidah dibina bertujuan untuk mencapai ilmu hakikat. Ini juga yang membuat Imam Al-Ghazali hijrah ke Syam setelah mencapai puncak dalam dunia pemikiran yang nampak silau, beliau mengira inilah aqidah Islam, sampai akhirnya beliau sadar untuk apa sebenarnya kita mempelajari ilmu aqidah.

Beliaupun memutuskan hijrah untuk mempelajari aqidah para darwish. Para darwish yang bisa memadukan antara kitab syarah "Al-Mawaqif Al-Jurjani" dengan "Kibrit Ahmar Asy-Syarani", antara kitab pemikiran Syeikh Fachurudin Ar-Razi dengan kitab "Ruhaniyah Muhyidin Ibnu Araby". Mereka adalah pewaris madrasah sayidina abu darda

Ust Fauzan Inzaghi | ISNUSA
__________________________
Dari akun Jalan Sufi (FB)

Sunday, June 23, 2019

Dua Perspektif tentang 'Iblis' yang jarang dibahas dalam literatur


Selama ini, kita selalu mendapat narasi tentang Iblis sebagai figur yang angkuh dan merasa paling benar. Di dalam beberapa kitab tafsir diriwayatkan bahwa sikap Iblis merasa paling benar itu adalah karena ia diangkat sebagai imam shalat bagi para malaikat karena ketekunannya beribadah.
Di antara ayat yang menjelaskan sikap angkuh Iblis itu adalah:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَیۡرࣱ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِی مِن نَّارࣲ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِینࣲ. {الأعراف : ١٢}.

Allah berfirman:
“Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
[Surat Al-A'raf 12]

Tapi sayangnya, narasi tentang penggambaran Iblis itu tidaklah utuh. Iblis hanya digambarkan sebagai sosok yang bangga dengan kebaikan yang dilakukannya. Kita melupakan narasi lain tentang sifat Iblis yang disebut di dalam surat al-A'rāf sebagai sosok yang bangga dengan kutukan yang diterima dan pendendam. Ayat berikut menjelaskan penggambaran yang dimaksud:

قَالَ فَبِمَاۤ أَغۡوَیۡتَنِی لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَ ٰ⁠طَكَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ. 
{الأعراف : ١٦}.

(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,."
[Surat Al-A'raf 16]

Dalam bahasa gaul, Iblis seakan berkata, "emang gue sesat, gue terkutuk. Tapi, entar loe liat gimana balasan gue!"
Ketika diusir dari surga Iblis memang menangis, seperti dihikayatkan oleh Syaikh Muhammad al-Khathib al-Syirbini di dalam mukaddimah Mughni al-Muhtâj. Tapi, tangis Iblis itu bukanlah tangis penyesalan sebagaimana dilakukan orang tua kita, Nabi Adam alaihissalām dan Ibu Hawa.

Tangis Iblis adalah tangis amarah dan dendam. Marah karena jabatan bergengsinya sebagai imam bagi para malaikat dicabut. Dendam, karena statusnya sebagai penduduk surga hilang gegara  harus sujud kepada Adam.
Kita bisa membaca amarah dan dendam itu, dari penuturan Syaikh al-Syirbini di atas yang melanjutkan bahwa Iblis menangis karena tiga sebab:

Pertama, Karena diusir dari surga.
Kedua, Karena lahirnya Rasulullāh Muhammad shollallāhu 'alayhi wa sallam;
Ketiga, Karena turunnya surat al-Fatihah kepada kanjeng Nabi SAW.

Dari tambahan penjelasan di atas, tidaklah cukup bagi kita menyimpulkan bahwa sifat Iblis itu hanya dari aspek, berbangga dengan ibadah yang dilakukannya sehingga dia merasa lebih baik.

Penjelasan Syaikh al-Syirbini di atas memberi penegasan lain. Bahwa termasuk juga ke dalam sifat Iblis adalah dengki dengan rahmat yang Allah berikan kepada orang lain. Dan jika dengki ini dijadikan sebagai variabel, tentu kita semua mempunyai potensi untuk menjadi pendengki. Dan di antara kedengkian yang mengerikan adalah dengki melihat orang berubah menjadi saleh, lalu disebarlah fitnah bahwa Iblis juga pernah lebih saleh daripada itu. Naudzu billāh...

Abdi Kurnia Djohan (FB) | Islam Nusantara ISNUSA | 17:16 WIB.
_________
Baca Juga : Pemimpin Pertama Di Bumi

Tuesday, May 15, 2018

HAKIKAT JALAN SUFI DARI SYEKH ABU HASAN ASY-SYADZILI

Illustrasi.google
Menurut Imam Asy-Syadzili, jalan tasawuf itu bukanlah jalan kerahiban, menyendiri di goa, meninggalkan  tanggung jawab sosial, tampak miskin menderita, memakan makanan sisa, pakaian compang-camping dan sebagainya.

Tetapi, jalan sufi adalah jalan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk Ilahi. Allah SWT berfirman, 

“Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” 
(QS As-Sajadah [32]: 24-25)

Imam Asy-Syadzili mengatakan, “Pelabuhan (tasawuf) ini sungguh mulia, padanya lima perkara, yakni: sabar, takwa, wara’, yakin dan makrifat. Sabar jika ia disakiti, takwa dengan tidak menyakiti, bersikap wara’ terhadap yang keluar masuk dari sini—beliau menunjuk ke mulutnya—dan pada hatinya, bahwa tidak menerbos masuk ke dalamnya selain apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta keyakinan terhadap rezeki (yang diberikan Allah) dan bermakrifat terhadap Al-Haqq, yang tidak akan hina seseorang bersamanya, kepada siapa pun dari makhluk.

Allah SWT berfirman :

“Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]: 127-128)

Imam Asy-Syadzili juga mengatakan, “Orang yang berakal adalah orang yang mengenal Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, hal yang Allah inginkan dari seorang hamba adalah empat perkara: adakalanya berupa nikmat atau cobaan, ketaatan ataupun kemaksiatan.
Jika engkau berada dalam kenikmatan, maka Allah menuntutmu untuk bersyukur secara syariat. Jika Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntutmu untuk bersabar secara syariat. Jika Allah menghendaki ketaatan darimu, maka Allah menuntutmu untuk bersaksi atas anugerah dan taufik-Nya secara syariat. Dan, jika Dia menghendaki kemaksiatan dirimu, maka Allah menuntut dirimu untuk bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penyesalan mendalam secara syariat.
Siapa yang mengerti empat perkara ini datang dari Allah dan melakukan apa yang Allah cintai darinya secara syariat, maka dia adalah hamba yang sebenar-benarnya. 

Rasulullah SAW bersabda, 

“Barangsiapa yang ketika diberi lalu ia bersyukur, jika ditimpa cobaan dia bersabar, jika dia menzalimi lalu meminta ampun dan jika dia dizalimi lalu memaafkan.” 

Kamudian Rasul terdiam...Para sahabat pun heran dan bertanya, “Ada hal apa, wahai Rasulullah?” 

Kemudian Rasul pun menjawab, “Merekalah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam ungkapan sebahagian dari mereka menyebutkan, “Tidak akan dianggap mudah melakukan itu, kecuali bagi seorang hamba yang memiliki cinta. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah semata atau mencintai apa yang Allah perintahkan sebagai syariat agamanya.”


(Syekh 'Ali bu Hasan Asy-Syadzili dalam kitab Durrat Al-Asrar wa Tuhfat Al-Abrar karya Muhammad Ibn Abi Qasim Al-Humairi) 

-Tasawuf Underground (FB)-

Sunday, May 13, 2018

BERMIMPI ATAU BERTEMU RASULULLAH SAW.


Suatu jetika ada seseorang tamu yang bertanya kepada Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, ia berkata “Habib, saya minta diceritakan kisah Rasulullah Saw walaupun sedikit saja”. Maulana Habib Luthfi terdiam.

Kemudian tamu bertanya kembali, "Apakah perasaan rindu kepada Rasulullah Saw nyata atau halusinasi?"  Maulana Habib Luthfi menjawab, perasaan itu nyata, itu hubungan antara Rasulullah saw dengan umatnya. Bukan halusinasi.

Kemudian sambil terisak menahan tangis, bertanya kepada Habib Luthfi bin Yahya, " Apakah Rasulullah saw tahu dinamika dan detail kehidupan yang dijalani oleh umatnya?" 
Maulana Habib Luthfi bin Yahya menjawab :

“Kalau tidak tahu dunia ini akan hancur. Rasulullah saw dengan ijin Allah menjaga kehidupan umat manusia, menjaga bumi ini. Jangankan Nabi saw, para walipun tahu. Oleh sebab itu para wali senantiasa memohon kepada Allah untuk menghindarkan musibah dari manusia dan memberikan segala kebaikan bagi kehidupan manusia di bumi”.

“karena kasih sayang Nabi kepada umatnya, umat mudah sekali bertemu dengan Rasulullah saw (melalui mimpi maupun secara langsung). Bahkan, lebih mudah bertemu Nabi saw daripada bertemu para wali, wakil-wakil Nabi di bumi ini”. 

Kemudian Maulana Habib Luthfi bin Yahya membaca beberapa bagian dari kitab Sa’adat darain, yang disusun oleh Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani.

“Diantara manfaat terbesar membaca Shalawat kepada Nabi Saw adalah dapat melihat Nabi saw dalam mimpi. Dan akan terus meningkat kualitas mimpinya seiring semakin banyaknya shalawat yang dibaca, sampai bisa melihat Nabi saw dalam keadaan terjaga. Nabi saw bersabda, 

ﻣﻦ ﺭﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻲ ﺣﻘﺎ

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata (hak)”. 

Jika kita ingin bertemu dengan Kanjeng Nabi Saw, maka hidupkanlah waktumu dengan memperbanyak bacaan shalawat.

Beberapa hadis yang membahas tentang mimpi bertemu dengan Kanjeng Nabi Muhammad saw, diantaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar:

ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﺄﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ
 ﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﺑﻲ

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku”.

Dalam hadis lain riwayat Abu Hurairah,

ﻣﻦ ﺭﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻻﻳﺘﺼﻮﺭ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ ﻻ ﻳﺘﺸﺒﻪ ﺑﻲ .

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku”.

Hadis ketiga diriwayatkan oleh Thariq bin Asyim RA, Rasulullah saw bersabda,

ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ

"Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku"

Dalam hadis lain disebutkan,

ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﺴﻴﺮﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ 
ﻭﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﺑﻲ

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga, dan Syaithan tidak dapat menyerupaiku".

Menurut ulama, hadis ini berlaku secara umum, baik dahulu ketika Rasulullah saw masih hidup, maupun sampai saat ini, ketika Rasulullah saw sudah wafat.

Lalu apakah hadits ini berlaku bagi mukmin ahli maksiat yang bermimpi melihat Nabi Saw? Menurut ulama, hadits ini berlaku secara umum, baik yang bermimpi itu orang yang taat ataupun mukmin yang tidak taat.

Mukmin yang tidak taat yang bermimpi bertemu Nabi saw menjadi pertanda bahwa kelak ia akan mendapatkan petunjuk untuk menjalankan ketaatan.

Nabi saw bersabda, “kalian yang akan dimasukan kedalam surga, akan diberi taufiq (petunjuk) untuk beramal baik, meskipun hanya tinggal selangkah lagi ke neraka.

Hadis-hadis ini menjadi kabar baik dari Nabi saw untuk umatnya diakhir zaman. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi saw, bahwa "diakhir zaman kelak ada umatnya yang secara suka cita mengeluarkan sedekah, dan beramal kebaikan dengan harapan bisa bertemu Nabi saw". 

Nah, hadis-hadis diatas menjadi pelipur lara bagi umat yang ingin melihat Nabi saw. Dan Nabi saw, menyatakan bahwa, "mereka yang melihat Nabi saw, dalam mimpi, maka ia akan berjumpa dengan Nabi saw, dalam keadaan terjaga.

"Dikisahkan suatu ketika, Ibn Abbas bermimpi bertemu Nabi saw, Ibnu Abbas teringat akan sabda Nabi saw, tentang orang yang melihat Nabi saw, dalam mimpi. Kemudian Ibn Abbas menceritakan mimpinya kepada Shafiyah istri Nabi saw. Shafiyah memberikan jubah dan cermin yang pernah digunakan Nabi saw. Pada saat Ibn Abbas bercermin, yang Nampak dalam cermin adalah wajah Nabi saw, bukan wajahnya”.

Habib Luthfi menambahkan, melihat Nabi saw, secara langsung bisa dengan dua kondisi, yakni dengan yaqdztan (mimpi) juga bisa dengan thariq kasyf (melihat langsung secara nyata).

Melihat Nabi saw, dengan thariq kasyf, terjadi seketika, seperti saat berhadapan dengan orang lain, tiba-tiba yang tampak dari wajah orang lain itu adalah wajah yang mulia Nabi saw. Seperti kasus, Ibn Abbas bercermin dengan cermin Nabi saw, akan tetapi yang tampak dalam cermin bukan wajah ibn Abbas melainkan wajah mulia Nabi Muhammad saw.

Terakhir Maulana Habib Luthfi mengatakan, untuk menjaga hubungan dengan Nabi saw adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi. Dan shalawat adalah tali silaturahim kita kepada Rasulullah saw.

-Den Agil bin Masyhur (FB)-

Friday, May 11, 2018

Kisah Kiai Djazuli Mendidik Gus Miek

Biografi | Kisah Kiai Djazuli Mendidik Gus Miek

Kiai Jazuli Utsman, sang pendiri Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri mempunyai putra-putra yang sholeh. Salah satunya adalah KH Chamim Jazuli , biasa dipanggil Gus Miek. Semasa mengandung Gus Miek, Ibu Nyai Rodhiyah mengalami peristiwa dan mimpi yang luar biasa yang tidak dialami sebelumnya.

Ketika mau melahirkan Gus Miek, Ibu Nyai menerima tamu tak dikenal dan menyerahkan gabah (padi) yang sangat banyak untuk menyambut lahirnya Gus Miek. Ini menandai bahwa kelak akan banyak orang yang menyerahkan harta bendanya kepada Gus Miek dalam rangka ikut serta membantu berdakwah. Banyak kisah-kisah lain yang menyertai Gus Miek ketika masih di dalam kandungan.

Tatkala sekolah di SR (Sekolah Rakyat), Gus Miek itu murid yang suka bolos. Ibunya sering mencarinya, tetapi Gus Miek sering berkilah dan bersembunyi. Karena saking seringnya, Ibu Nyai Rodhiyah akhirnya memahami perilaku yang berbeda dari dalam diri anaknya. Ketika ngaji di Madrasah, Gus Miek hanya sampai kelas pertengahan Alfiyah. Kiai Jazuli akhirnya membuat syukuran Alfiyah, karena Gus Miek yang jarang ngaji bisa hafal Alfiyahnya.

Kiai Hasyim Asy’ari Tandai Keulamaan Kiai Jazuli Ploso Kediri Syukuran ini tidak dilakukan Kiai Jazuli kepada anaknya yang lain, karena merasa Gus Miek ini berbeda. Jarang ngaji, sering bolos, dan suka main, tetapi Alfiyahnya bisa khatam.

Ketika belajar al-Quran, Gus Miek pertama-tama mengaji kepada ibunya, Nyai Rodhiyah. Kemudian dilanjutkan ngaji bersama Ustadz Hamzah. Baru mendapatkan satu juz, Gus Miek sudah minta khataman.
Iya, putra Kiai Jazuli bernama Gus Miek ini memang beda perlakuannya. Kiai Jazuli mau ngaji kalau putra-putra sudah berkumpul, kecuali Gus Miek. Walaupun Gus Miek bermain dan kluyuran, Kiai Jazuli tetap membiarkannya. Padahal, dengan anaknya yang lain, Kiai Jazuli bisa marah kalau ada yang tidak ngaji.

Suatu hari, Kiai Jazuli menyuruh Gus Miek untuk ngaji. Ternyata, Gus Miek hanya memanggul kitab dan mengelilingi Kiai Jazuli sebanyak tiga kali. Kemudian Gus Miek mengatakan bahwa dirinya telah mempelajarinya, lalu pergi. Kiai Jazuli hanya diam dan tersenyum.

Kiai Jazuli sangat memahami pola hidup yang terjadi dalam diri putranya, Gus Miek. Kiai Jazuli tahu bahwa Gus Miek sudah masuk dunia tasawuf sejak masih dalam kandungan. Ibu Nyai sendiri juga membiarkan Gus Miek dengan gayanya sendiri, karena sadar bahwa Gus Miek mempunyai kelebihan yang berbeda dibanding yang lain. Para kiai sepuh juga memberikan saran dan masukan terkait Gus Miek, sehingga Kiai Jazuli bisa memaklumi Gus Miek.

Di samping itu, para santri sering melaporkan ihwal keanehan yang terjadi dalam keseharian Gus Miek.
Dari sini, Kiai Jazuli mendidik Gus Miek dengan caranya sendiri, berbeda dengan anaknya yang lain. Gus Miek ini pribadi yang sudah istimewa sejak dalam kandungan.
___________
-dari akun Jacky (FB)-

Wednesday, May 9, 2018

NASIHAT MALAM UNTUK MU WAHAI SAHABAT

Nasihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Nasihat Malam mu Wahai Sahabat

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu berkata:

"Ta'atilah dan jangan merusaknya. Bertauhidlah dan jangan menyekutukannya. Bersihkanlah sesuatu yang haqq dan jangan mencampuradukkannya.

Jujurlah dan jangan suka mengadu-domba. Bersabarlah dan jangan merasa takut dan sedih. Istiqamahlah dan jangan melarikan diri. Bertanyalah dan jangan merasa bosan. Tunggulah dengan sabar dan nantikanlah, jangan berputus asa.
Bersaudaralah, jangan saling bermusuhan. Bersatulah atas dasar ketaatan, jangan bercerai berai. Saling mencintailah, jangan saling menyimpan amarah. Bersihkan diri dari dosa, jangan kotori dan lumuri dengannya.
Berhiaslah dengan melakukan taat kepada Tuhanmu. Janganlah meninggalkan pintu junjunganmu. Janganlah menoleh dan berpaling dari hadapan-Nya. Janganlah menunda-nunda untuk melakukan taubat.
Janganlah merasa bosan untuk selalu meminta ampun kepada Tuhanmu setiap siang dan malam. Semoga kamu sekalian diberikan rahmat, keberuntungan, dijauhkan dari api neraka, didekatkan ke surga, disampaikan di sisi Allah SWT, diberikan semua kenikmatan di dalam Surga Darussalam.
Dan kalian akan abadi selamanya di sana. Menikmati kesenangan dengan bidadari dan segala macam wewangian, serta suara-suara yang merdu. Dan kalian akan diangkat bersama para nabi, shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang shalih.”

Tasawuf Underground (FB) 
_____________________________________
Pustaka : Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, dalam kitab Fathu Rab Bani)

Tuesday, May 8, 2018

OJO NGERASANI GURUMU SENAJAN GURUMU NDUWE KHILAF

Adab Murid kepada Guru | Islam Nusantara
"Ojo Ngerasani Gurumu  Senajan Gurumu  Nduwe  Khilaf dan Paksalah Dirimu Bersikap & Berakhlaq Sebaik Mungkin Pada Gurumu, Meskipun Itu Berat." 

Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan seorang murid yang tak menjaga akhlak pada gurunya, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali.


A. KH. ABDUL KARIM MENERIMA GURUNYA; MBAH KHOLIL APA ADANYA SERTA TUNDUK PATUH TAK BERANI SUUDZON 

Syaikhina KH. Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. Semasa beliau mengaji kepada Syaikhina Kholil Bangkalan, beliau adalah murid yang sangat ta’dhim dan khidmah kepada gurunya.
Alkisah, suatu hari Mbah Abdul Karim muda bekerja memanen padi di sawah milik warga kampung sekitar Pesantren. Dari sana beliau mendapatkan upah berupa beberapa ikat padi yang bakal digunakannya untuk biaya hidup di Pesantren. Namun, sesampai di kediaman sang guru (Mbah Kholil), justru Mbah Kholil meminta padi muridnya itu untuk diberikan kepada ayam-ayam Mbah Kholil. Karena ini dawuh sang guru, KH. Abdul Karim langsung menyerahkan padinya. Ia didawuhi Mbah Kholil untuk selama mondok cukup memakan daun pace (mengkudu).
Demikianlah kisah mondoknya Mbah Abdul Karim, sehingga akhirnya beliau diijinkan sang guru untuk boyong, karena semua ilmu Mbah Kholil telah diwariskan kepadanya. Sesampai di kampung halaman, Mbah Abdul Karim mulai merintis Majlis Ta’lim, hingga akhirnya berdirilah Pondok Pesantren Lirboyo. Mbah Abdul Karim mengajarkan ilmu yang ia timba dari kedalaman samudera ilmu Mbah Kholil.

B. PASRAH BONGKOKAN PADA AJARANYA GURU

Satu hal yang unik, setiap membacakan (mengajar) kitab di depan para santri, ketika beliau bertemu dengan ruju’ (tempat kembalinya maksud dari sebuah kata), beliau tidak pernah menyebutkan ruju’nya secara gamblang. Beliau menyebutkan dengan ‘iku mau’, atau ‘mengkono mau’ (yang tadi atau “sebagaimana tadi”). Tentu ini membingungkan bagi para santri baru. Hingga pernah suatu ketika pada saat pengajian bulan Ramadhan, atau dikenal dengan istilah ‘posonan’, seorang santri dari luar daerah mengikuti pengajian Mbah Abdul Karim. Karena setiap mengajar kitab, Mbah Abdul Karim jarang menjelaskan ruju’annya, santri baru ini ‘nggerundel’; “Ini bagaimana, katanya seorang kyai ‘alim, kok setiap ada ruju’an tidak pernah dijelaskan?”, gumamnya dalam hati.
Dengan izin Allah, Mbah Abdul Karim ‘perso’ (mengetahui) perihal keluhan sang santri ini. Di tengah suasana mengaji, Mbah Abdul Karim dhawuh; “Laa ya’rifu al dhomir illa al dhomir, fa man lam ya’rif al dhomir fa laisa lahu al dhomir” (tidak akan pernah mengetahui makna dhomir kecuali hati (dhomir), maka apabila seseorang tidak mengetahui dhomir, itu artinya dia tidak punya hati). Lalu beliau menjelaskan kepada para santri, bahwa demikianlah (dengan tidak menjelaskan ruju’nya dhomir) pengajian yang diajarkan oleh gurunya, Mbah Kholil. Sehingga ketika mengajar kepada santrinya, Mbah Abdul Karim tidak berani mengubah apa yang diajarkan sang guru kepadanya.

C. OPENONO AKHLAKMU MARANG GURUMU 
Kesuksesan murid (peserta didik) dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat, tidak hanya ditentukan oleh lembaga pendidikan, metode mengajar guru, atau sarana prasarana fisik dalam belajar, tapi yang paling dominan justru ditentukan oleh akhlak murid (peserta didik) kpd guru (pendidik).

Al Imam an Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, " Ya Allah, tutuplah dariku dari kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku ". (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155)

Al Imam an Nawawi juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الاستاذين لا يمحوه شيء البتة

" Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya ".

Al Habib Abdullah al Haddad mengatakan : "Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali ". (Adaab Suluk al Murid : 54)

D. OJO KAKEHAN TAKON, LAN OJO GAMPANG NJALUK IJAZAHAN ATAUPUN AMALAN 

Al Habib Abdullah al Haddad juga berkata, " Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, " perintahkan aku ini, berikan aku ini !", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya ". (Ghoyah al Qashd wa al Murad : 2/177)

Dikisahkan, bahwa seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba-tiba Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khudhir.
Maka nabi Khidhir berkata, " Tidakkah kau mengenalku ?. Murid itu menjawab, " ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ".
Nabi Khidhir, " kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?".
Murid itu menjawab, " Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu ". (Kalam al Habib Idrus al Habsyi : 78)

Para ulama ahli hikmah mengatakan, " Barangsiapa yang mengatakan " kenapa ?" Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya ". (Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan :

ان المحصول من العلم والفتح والنور اعني الكشف للحجب، على قدر الادب مع الشيخ وعلى قدر ما يكون كبر مقداره عندك يكون لك ذالك المقدار عند الله من غير شك

" Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu ".(al Manhaj as Sawiy : 217)

Para ulama ahli haqiqat mengatakan, "Mayoritas ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan baik antara murid dengan gurunya".

E. GURU IKU TERMASUK WONG TUWO ING DUNYO LAN AKHIROT,
MERGO GURUMU NAFAQOHI RUH-MU DENGAN ILMU AGAMA.


Didunia kita harus tunduk dan patuh, dan di akhiratpun status mereka tetap sebagai guru kita yang akan menuntun kita pada guru-guru seatasnya hingga Nabiyyullah Muhammad saw. untuk mendapati pengakuan sebagai ummatnya hingga bisa memperoleh syafaatnya.

F. DI ALAM KUBURPUN KITA BISA REUNI BERTEMU GURU KITA 

Hal ini sangat jelas diterangkan dalam beberapa kitab ulama' bahwa :
Dalam kitab Musnad Imam Ahmad ada hadits shohih yang bersumber dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu:

إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات، فإن كان خيراً استبشروا به، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا

“Sesungguhnya amal perbuatan kalian (yang masih hidup didunia ini) di tampilkan kepada kerabat kerabat dan keluarga kalian yang telah mati. Jika amal perbuatan kalian itu BAGUS, maka mereka turut senang dan bahagia, dan jika BURUK, mereka berkata/berdoa:”Ya Allah ya Tuhanku, jangan Engkau cabut nyawa mereka sehingga Engkau memberikan Hidayah kepada mereka seperti halnya kepada kami”.

Bebrapa kalangan ulama' yang diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah di tanya tentang yang hidup menziarahi yang mati (ziarah kubur) itu apakah yang mati (didalam kubur) mengetahuinya? Dan apakah yang mati mengetahui jika ada kerabatnya atau yang lain ada yang mati?
Beliau menjawab:

الحمد لله، نعم قد جاءت الآثار بتلاقيهم وتساؤلهم وعرض أعمال الأحياء على الأموات، كما روى ابن المبارك عن أبي أيوب الأنصاري قال: إذا قبضت نفس المؤمن تلقاها الرحمة من عباد الله، كما يتلقون البشير في الدنيا، فيقبلون عليه ويسألونه فيقول بعضهم لبعض: أنظروا أخاكم يستريح، فإنه كان في كرب شديد، قال: فيقبلون عليه ويسألونه: ما فعل فلان وما فعلت فلانة، هل تزوجت


"Segala Puji bagi Allah, ya benar. Telah ada sebuah Atsar yang menjelaskan tentang perjumpaan mereka dan percakapan mereka (yang baru mati dgn kerabatnya yang sudah lama mati) dan juga ditampilkan amal perbuatan yang hidup kepada yang telah mati seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mubarok dari Abu Ayub Al Al Anshori. Beliau menuturkan:
Jika seorang mukmin meninggal dunia, maka mereka hamba hamba Allah yang beriman mendapati rahmat Allah, yaitu mereka saling bertemu satu sama lain (di alam ruh). seperti halnya manusia di dunia. 
Mereka saling menyambut dan bertanya satu sama lain.
Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain:”Lihatlah saudara kalian itu… dia sekarang bisa beristirahat dari kesedihan yang sangat dari kebisingan dunia.
Mereka (yang lama mati) menyambutnya (yang baru mati) dan mereka bertanya (kepada yang baru mati): mereka bercakap-cakap dengan obrolan “apa yang dikerjakan si A sekarang didunia? 
mereka babercakap-cakap dengan kalimat “bagaimana kabar si wanita itu? apakah dia sudah menikah? Wa ghoiru dzalik."


Maka, jagalah aklhakmu pada guru, sebab kau akan tetap bertemu gurumu baik di Dunia, di alam kubur, dan juga di akhirat hingga bisa berkumpul bersama-sama di surga.

Wallahu a'lam bish showab.
___________
Lensa Santri dari Ust. Ikhwan

Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi