Islam Nusantara: TASAWWUF
Showing posts with label TASAWWUF. Show all posts
Showing posts with label TASAWWUF. Show all posts

Saturday, July 6, 2019

KESABARAN KH. HASYIM SHOLEH DIUJI SANG MURSYID (GUS MIEK)

ISNUSA - Salah satu alasan mengapa Majelis Sema’an Al Qur'an dan Dzikrul Ghofilin bisa berkembang pesat dan tersebar luas adalah karena Gus Miek mempunyai pengikut, santri, karib dari kalangan Kiai-kiai ternama di daerah–daerah, yang dengan ikhlas lahir bathin siap mengembangkan majelis ini.

Salah satu "tangan kanan" Gus Miek adalah KH. Hasyim Sholeh. Masyarakat sekitar kerap memanggilnya Mbah Hasyim Mayak (Mayak, merujuk pada nama dukuh/desa) Pendiri Pondok Pesantren Darul Huda, Ponorogo yang hingga kini dibuat ngangsu kaweruh ribuan santri. Kesiapan lahir bathin tersebut salah satunya bisa disimpulkan dari cerita berikut:

Kisah ini penulis dapat ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Darul Huda, Ponorogo, pada suatu forum mengaji yang diampu oleh Gus Sami’ (Putra KH. Hasyim Sholeh). Beliau bercerita dengan intonasi yang lembut nan khas.

Di saat majelis sima’an Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin masih terpusat di daerah Kediri, banyak jemaah dari luar kota yang berbondong–bondong menghadiri majelis tersebut, tak terkecuali rombongan dari Ponorogo yang dipimpin KH. Hasyim Sholeh. Pada suatu momen sima’an, Gus Miek melihat rombongan Ponorogo kian bertambah banyak. Gus Miek menilai sudah saatnya Ponorogo mendirikan majelis sendiri. Dipanggillah Mbah Hasyim menghadap.

“Kiai, njenengan saya amanahi merintis sima’an di Ponorogo ya?” pinta Gus Miek.

“Iya, Kiai.” Jawab Mbah Hasyim dengan penuh ta’dzim.

“Njenengan cari waktu yang sesuai, nanti saya sendiri yang akan meresmikan.”

“Iya,  TimpKiai.”al Mbah Hasyim sekali lagi.

Waktu yang direncanakan pun telah tiba. Bertempat di depan kediaman Mbah Hasyim, para jemaah berkumpul membentuk lingkaran dengan sebuah tumpeng di tengahnya. Majelis hanya tinggal menunggu kedatangan Gus Miek.

Waktu terus berjalan namun Gus Miek tak kunjung datang. Jemaah pun mulai resah termasuk Mbah Hasyim selaku shohibul hajat. Setelah dirasa Gus Miek tidak datang, jemaah pun satu persatu pamit pulang dengan memendam rasa kecewa, tak terkecuali Mbah Hasyim sendiri.

Di kesempatan sima’an selanjutnya, Mbah Hasyim tetap berangkat. Kekecewaan lantaran tidak hadirnya Gus Miek dalam rencana peresmian majelis tempo hari tak membuatnya patah hati. Setelah majelis selesai, Gus Miek memanggil Mbah Hasyim yang berada di tengah rombongan Ponorogo.

“Mohon maaf kiai, kemarin berhalangan hadir, njenengan cari waktu lagi ya? Oh iya, sekalian siapkan pengeras suara yang bagus.” Pinta Gus Miek dengan nada mantap dan lugas.

“Iya, Kiai.” jawab Mbah Hasyim sembari berharap semoga kali ini benar–benar bisa datang.

Waktu peresmian telah tiba. Seperti biasanya, jemaah melingkar dan sebuah tumpeng berada di tengah lingkaran. Kali ini terdapat pengeras suara yang lebih besar dari sebelumnya. Semua sudah siap, tinggal menunngu sang Mursyid tunggal Dzkirul Ghofilin. Namun sang guru belum juga tiba. Mbah Hasyim berharap cemas dan tak ingin kembali mengecewakan para jemaah.

Tapi kenyataan berkata lain. Mbah Hasyim kembali kecewa, karena ternyata sang guru tidak hadir hingga majelis bubar. Di tengah malam yang sunyi, Mbah Hasyim keluar rumah dan berjalan menyusuri pinggiran jalan raya sambil sesekali meneteskan air mata.

“Apa sebenarnya diinginkan Gus Miek?"

"Apakah aku melakukan kesalahan hingga membuat beliau tidak mau hadir?"

"Ataukah Tuhan belum menghendaki majelis ini berdiri di Ponorogo?” bathin-nya terus bergejolak.

Di tengah gejolak hatinya, sebuah mobil lewat dari arah belakang mbah Hasyim. Mobil ber-plat "N1CA" itu tak lain dan tak bukan adalah mobil Gus Miek. Mobil itu berjalan pelan sendirian di tengah jalan. Seakan ingin menunjukan bahwa sebenarnya Gus Miek memang telah berada di Ponorogo dan sengaja tidak menghadiri kegiatan peresmian.

Pada kesempatan sima’an selanjutnya, Mbah Hasyim memantapkan hatinya untuk berangkat ke Kediri, seakan hatinya tegas berkata, “Ada atau tidak adanya majelis sima’an di Ponorogo tak akan menyurutkan semangatku untuk istiqomah hadir di majelis sima’an”. Pasca majelis selesai, seperti biasa mbah Hasyim dipanggil gus Miek.

“Mohon maaf Kiai, kemarin tidak bisa hadir. Njenengan kumpulkan lagi jemaah yang banyak, kali ini hukumnya wajib saya hadir.” pinta Gus miek dengan senyum ramah seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Iya, Kiai.” timpal Mbah Hasyim lirih.

Kali ini dibenaknya hanya pasrah, ini semua diniati semata mencari berkah sang guru.

Waktu yang ditunggu telah tiba. Kali ini selain tumpeng yang lebih besar, jemaah pun lebih banyak sesuai permintaan Gus Miek. Semua yakin dan mantab kali ini Gus Miek benar-benar bisa hadir. Namun harapan itu ternyata sirna. Gus Miek benar-benar tidak hadir untuk ketiga kalinya. Jemaah pun bubar. Tak ada peresmian malam itu. Tengah malam, mbah Hasyim berjalan menyusuri jalan, untuk sekedar meluapkan kesedihannya. Air matanya menetes. Dalam hatinya bermunajat,

“Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk menghadapi cobaan-Mu, semua yang hamba jalani semata hanya untuk meraih ridha-Mu.”

Di tengah kegalauannya, di jalan yang sama seperti yang lalu, Mbah Hasyim melihat ada mobil lewat di sampingnya. Mobil sang guru berjalan pelan dan berhenti. Kaca depan mobil itu terbuka dan wajah sang guru keluar di balik kaca mobil sembari melontarkan satu kalimat.

“Gimana, Kiai? Enak to?” dawuh Gus Miek dengan tersenyum tipis.

Setelah itu, mobil melaju kencang. Mbah Hasyim menunduk dan mengelus dada dengan perasaan campur aduk antara sedih, kecewa, dan pasrah. Konon di pertemuan selanjutnya Gus Miek berbicara empat mata dengan mbah Hasyim yang intinya serangkaian kejadian kemarin hanya sebuah ujian kecil dari sang guru.

“Kalau mau marah tidak perlu belajar, kecuali sabar, itu butuh belajar.” begitu pesan Gus Miek.

Singkat cerita sima’an mantab akhirnya diresmikan langsung oleh Gus Miek. Meskipun terdapat berbagai hambatan di awal berdirinya, namun berkat bekal ujian kesabaran dari SANG GURU, dan kegigihan sang murid serta atas ridha-Nya, seperti yang kita ketahui majelis sima’an Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Majelis ini ibarat oase di tengah keringnya aspek spiritual di kalangan masyarakat.
Kagem Beliau berdua, Al-faatihah.

Fathan Zainur Rosyid | Sabtu, 29 Juni 2019 | 16.40 WIB.

Gus Baha' : "Perlunya Ilmu Mantiq dalam Mengenal Allah"

ISNUSA - Keinginan setan adalah agar manusia senantiasa tidak berpikir dengan selalu hidup bersenang-senang. Dengan menjalani kehidupan yang penuh kesenangan seketika akan membawa manusia untuk malas mencari tahu tentang siapa Tuhannya.

Inilah yang menjadi sebab utama munculnya faham nihilism, atheism yang sepertinya sangat kritis dan selalu mengedepankan logika dalam pola pikirnya kendatipun tak pernah menemukan bukti tentang keberadaan Tuhan.

Tujuan utama mengaji adalah mengenalkan seseorang terhadap Allah (Tuhan) dengan akal sehat. Kekeliruan yang kerap dilakukan para 'ulama adalah memulai dengan mengenalkan sebutan Allah tanpa memberi pemahaman logis tentang esensi Tuhan yang dapat diterima oleh mereka.

KH. Bahauddin Nur Salim atau yang seringkali hanya dikenal dengan sebutan Gus Baha’ dalam suatu pengajian mengatakan bahwa,

“Dalam ilmu mantiq yang diajarkan di pondok-pondok pesantren tidak pernah menyebutkan Allah, yang disebutkan adalah bahwa alam ini makhluk (ciptaan). dan setiap makhluk memerlukan Kholik (pencipta) untuk dapat menjadi ada. Alam ini adalah sebuah akibat, dan sebagai akibat akan selalu butuh sebab”.

Lalu Gus Baha menjelaskan bahwa, Sebab ini kita sebut musabibul asbab. Artinya sebuah ‘Sebab’ harus ada sebelum yang disebabi atau ‘Akibat’ itu sendiri ada.

“Wujud yang sekarang kita kenal ini membutuhkan penyebab atau yang kita kenal sebagai Wajibil Wujud atau wujud superior. Semua itu oleh Islam disebut dengan nama Allah”, papar kiai penekun tasawuf ini lebih lanjut.

Akal manusia hanya sampai pada rumusan bahwa alam ini butuh penyebab, yang oleh Einsten dan pemikir-pemikir modern dikenal dengan ‘Causa Prima’.

Maka menurut santri kesayangan Mbah Moen Sarang (KH. Maimoen Zubair) ini ilmu mantiq ala pesantren sangat penting agar kita tidak sering keliru dalam merekonstruksi bangunan tauhid dalam logika yang menjadi landasan penting dalam mengenal Allah melalui sifat-sifatnya.  (@ulama.nusantara)

ISNUSA | Senin, 01 Juli 2019 | 01.13 WIB.

Friday, June 28, 2019

AQIDAH PARA DARWIS

Aqidah para Darwish dan madrasah Syamiyah dalam ilmu kalam dan filsafat.

Syeikh Said Hawwa dulunya adalah seorang yang sangat menyukai ilmu logika dan filsafat barat. Kehidupan ilmiyahnya dikampus selalu dipenuhi dengan filsafat dan Ghazwul Fikr (perang pemikiran). Tetapi makin dia mendalami berbagai pemikiran beliau makin gelisah, beliau tidak menemukan ketenangan, padahal beliau mempelajari berbagai pemikiran di dunia bertujuan untuk membela aqidah Islam dan menjawab syubhat-syubhat yang dilemparkan lawan pada islam.

Hasilnya?!
Hidup beliau begitu hampa.

Sampai suatu hari beliau datang ke Jami' Taubah untuk hadir di majlis hadrah Sidi Muhammad Al-Hasyimi, seorang ulama dan wali besar negeri Syam ketika itu, mursyid tareqat Syadziliyah yang sudah meninggalkan kehidupan dunia, bergaya hidup dipenuhi kezuhudan, jauh dari kemewahan, sebagaimana para darwish. Tapi entah kenapa Syeikh Said Hawwa merasakan kebahagian ruhaniyah yang luar biasa bersama beliau.

Syeikh Said Hawwa mulai sering mengunjungi majlis beliau. Setiap kali beliau panat dengan dunia perang pemikiran beliau hadir di majlis hadrah. Yang membuat beliau takjub adalah ketika ada permasalahan yang beliau tidak ketemu jawabannya tentang pemikiran modern beliau bertanya pada Sidi Al-Hasyimi dan Syeikh Al-Hasyimi ini bisa memberi jawabannya.

Beliau tidak menyangka bahwa seorang darwish yang terkesan kampungan dan tidak peduli pada dunia ini memiliki literasi sangat tinggi pada pemikiran dan filsafat modern jauh lebih memahaminya melebihi dirinya yang sehari-hari terlihat selalu berkutat dengan hal tersebut.

Ini membuat beliau makin kagum dan berubah pandangan pada para darwish dimana para darwish selama ini hanya dianggap sebagai tempat ngalap berkah, namun ternyata mereka memahami perkembangan pemikiran modern melebihi orang-orang dikampus. Hanya saja mereka menganggap itu hanya sebagai obat untuk penyakit, sedangkan aqidah dan jalan menuju tuhan dan mencapai kebahagian islam sebenarnya dari jalan para darwish ini.

Mulai sejak itu kita melihat Syeikh Saidaid Hawwa berubah total, buku-buku beliau pada masa akhir hidupnya dipenuhi dengan ajaran Tasawuf para darwish, bahkan buku pemikiran sekalipun didasari ilmu Tasawuf.

Inilah madrasah Syamiyah dalam pembinaan aqidah, aqidah dibina bertujuan untuk mencapai ilmu hakikat. Ini juga yang membuat Imam Al-Ghazali hijrah ke Syam setelah mencapai puncak dalam dunia pemikiran yang nampak silau, beliau mengira inilah aqidah Islam, sampai akhirnya beliau sadar untuk apa sebenarnya kita mempelajari ilmu aqidah.

Beliaupun memutuskan hijrah untuk mempelajari aqidah para darwish. Para darwish yang bisa memadukan antara kitab syarah "Al-Mawaqif Al-Jurjani" dengan "Kibrit Ahmar Asy-Syarani", antara kitab pemikiran Syeikh Fachurudin Ar-Razi dengan kitab "Ruhaniyah Muhyidin Ibnu Araby". Mereka adalah pewaris madrasah sayidina abu darda

Ust Fauzan Inzaghi | ISNUSA
__________________________
Dari akun Jalan Sufi (FB)

Friday, June 21, 2019

Lima sebab timbulnya rasa Cinta seorang hamba kepada Allah SWT


Bagi penempuh jalan menuju Allah SWT atau dikenal dalam Ilmu Tasawuf atau Thariqah atau Ilmu ke-shufi-an itu disebut sebagai Pesuluk atau suluk,  salik  yang melakukan suluk, akan mengenal yang namanya Cinta kepada Allah Ta'ala. Dan untuk dapat mengenal Cinta kepada Allah Ta'ala, Al-Imam Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali At-Thusi, dalam kitabnya Ihya 'Ulumuddin. beliau telah melihat dan menyebutkan sebab-sebab yang dapat menimbulkan Mahabbah atau rasa Cinta kepada Allah Ta'ala itu dalam lima keadaan. Adalah;

Pertama, kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri, ke-kekalan, dan terhadap kesempurnaan serta kelanggengan hidupnya. Orang yang telah mengenal dirinya dan Allah SWT dengan ma'rifah yang benar, ia akan mencintai Allah Ta'ala atau dapat menimbulkan rasa cintanya kepada Allah Ta'ala. Hal ini karena ia telah mengenal bahwa hanya Allah yang dapat menuruti harapan kecintaannya pada dirinya.

Kedua, kecintaan dirinya kepada yang berbuat baik terhadap dirinya. Orang yang telah mengenal Allah dengan ma'rifah yang sesungguhnya akan mencintai Allah SWT, karena itu ia mengerti bahwa yang telah berbuat baik terhadap dirinya adalah Allah Ta'ala.

Ketiga, kecintaan dirinya kepada yang berbuat baik terhadap segala sesuatu. Kecintaan dirinya ini menghendaki atau dapat menumbuhkan rasa cintanya kepada Allah Ta'ala, karena sesungguhnya Allah berbuat baik terhadap seluruh makhluk-Nya.

Keempat, kecintaan dirinya kepada setiap yang indah karena keindahan itu sendiri. Bukan karena keuntungan lain yang dapat diperoleh daripadanya dibalik dari mengetahui keindahan. Seseorang yang telah mengenal Allah Ta'ala dengan ma'rifah yang sebenarnya, hatinya akan dapat melihat bahwa Allah adalah yang paling indah dari seluruh keindahan yang ada, oleh sebab itu ia pasti akan mencintai-Nya.

Kelima, cinta yang timbul karena saling menyesuaikan. Seseorang yang mencintai orang lain itu cenderung karena kesesuaian (kecocokan). Orang yang berilmu lebih banyak cenderung kepada orang yang berilmu juga, anak kecil saling mengasihi sesama anak kecil dan orang dewasa berkasih sayang dengan sesama orang dewasa, bahkan burung pun saling berkasih sayang dengan sesama jenisnya. Maka dari itu saling mengenal adalah karena saling menyesuaikan.

Manusia yang baik maka akan mempunyai sifat-sifat yang baik. Apabila dilihat dari kacamata bathiniah sifat-sifat baik manusia mempunyai kesesuaian dengan sifat-sifat Allah SWT. Inilah esensi dari wujud  ke Ilahiah-an didalam diri seorang Shufi, karena hanya orang-orang yang berjalan menuju kepada Allah SWT saja yang dapat membuka sirr atau rahasia tersebut. Kesesuaian ini tidaklah kelihatan melainkan dengan membiasakan diri untuk selalu melakukan ibadah-ibadah kepada Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya.

Disarikan dari buku "Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah".

KholiliNulis| Jurang Mangu Barat. Jum'at, 21 Juni 2019|15:08 WIB.
_________________________
Pustaka: Mahabbah Cinta Rabi'ah Al-Adawiyah, (Asfari MS & Otto Sukatno CR, -Cet. 1 -Yogyakarta, Narasi-Pustaka Prometheus, 2017). hlm. 44-45.

Tuesday, May 15, 2018

HAKIKAT JALAN SUFI DARI SYEKH ABU HASAN ASY-SYADZILI

Illustrasi.google
Menurut Imam Asy-Syadzili, jalan tasawuf itu bukanlah jalan kerahiban, menyendiri di goa, meninggalkan  tanggung jawab sosial, tampak miskin menderita, memakan makanan sisa, pakaian compang-camping dan sebagainya.

Tetapi, jalan sufi adalah jalan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk Ilahi. Allah SWT berfirman, 

“Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” 
(QS As-Sajadah [32]: 24-25)

Imam Asy-Syadzili mengatakan, “Pelabuhan (tasawuf) ini sungguh mulia, padanya lima perkara, yakni: sabar, takwa, wara’, yakin dan makrifat. Sabar jika ia disakiti, takwa dengan tidak menyakiti, bersikap wara’ terhadap yang keluar masuk dari sini—beliau menunjuk ke mulutnya—dan pada hatinya, bahwa tidak menerbos masuk ke dalamnya selain apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta keyakinan terhadap rezeki (yang diberikan Allah) dan bermakrifat terhadap Al-Haqq, yang tidak akan hina seseorang bersamanya, kepada siapa pun dari makhluk.

Allah SWT berfirman :

“Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]: 127-128)

Imam Asy-Syadzili juga mengatakan, “Orang yang berakal adalah orang yang mengenal Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, hal yang Allah inginkan dari seorang hamba adalah empat perkara: adakalanya berupa nikmat atau cobaan, ketaatan ataupun kemaksiatan.
Jika engkau berada dalam kenikmatan, maka Allah menuntutmu untuk bersyukur secara syariat. Jika Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntutmu untuk bersabar secara syariat. Jika Allah menghendaki ketaatan darimu, maka Allah menuntutmu untuk bersaksi atas anugerah dan taufik-Nya secara syariat. Dan, jika Dia menghendaki kemaksiatan dirimu, maka Allah menuntut dirimu untuk bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penyesalan mendalam secara syariat.
Siapa yang mengerti empat perkara ini datang dari Allah dan melakukan apa yang Allah cintai darinya secara syariat, maka dia adalah hamba yang sebenar-benarnya. 

Rasulullah SAW bersabda, 

“Barangsiapa yang ketika diberi lalu ia bersyukur, jika ditimpa cobaan dia bersabar, jika dia menzalimi lalu meminta ampun dan jika dia dizalimi lalu memaafkan.” 

Kamudian Rasul terdiam...Para sahabat pun heran dan bertanya, “Ada hal apa, wahai Rasulullah?” 

Kemudian Rasul pun menjawab, “Merekalah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam ungkapan sebahagian dari mereka menyebutkan, “Tidak akan dianggap mudah melakukan itu, kecuali bagi seorang hamba yang memiliki cinta. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah semata atau mencintai apa yang Allah perintahkan sebagai syariat agamanya.”


(Syekh 'Ali bu Hasan Asy-Syadzili dalam kitab Durrat Al-Asrar wa Tuhfat Al-Abrar karya Muhammad Ibn Abi Qasim Al-Humairi) 

-Tasawuf Underground (FB)-

Friday, May 11, 2018

PANDANGAN IMAM AHMAD TERHADAP TASAWWUF

PANDANGAN IMAM AHMAD TERHADAP TASAWWUF

Beberapa kalangan sering menulis bahwa para imam fikih seperti Imam yang Empat (al-Aimmat al-Arba'ah), menganggap tashawwuf sebagai ajaran yang sesat. Klaim itu mereka kuatkan dengan menampilkan pandangan para Imam Mazhab yang mencela tashawwuf dan para pelaku. Tanpa dicerna kembali oleh para pembaca awam, klaim itu langsung diterima dan dianggap sebagai pendapat yang bersifat final.

Padahal, tanpa disadari, klaim yang dibangun itu didasarkan kepada kutipan yang tidak utuh dari pandangan para Imam Mazhab. Barangkali karena didorong oleh kebencian yang memuncak, para pembenci tashawwuf hanya mengambil potongan dari opini Imam Mazhab tentang tashawwuf sambil membuang potongan opini lainnya yang memuji tashawwuf.

Di antara ulama, yang pendapatnya diambil sebagian tentang tashawwuf adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali dan penyusun kitab hadits Al-Musnad. Dengan memanfaatkan posisi Imam Ahmad yang dikenal sangat kokoh berpegang kepada sunnah, para pembenci tashawwuf memanfaatkan potongan opini Imam Ahmad dan membuang potongan lainnya.

Di antara ucapan Imam Ahmad tentang tashawwuf adalah nasihat beliau kepada puteranya, Abdullah:

يا ولدي عليك الحديث و إياك ومجالسة هؤلاء الذين سموا أنفسهم صوفية. ربما كان احدهم بأحكام دينه

Wahai anakku, tetaplah kamu mempelajari hadits dan berhati-hatilah dalam bergaul dengan mereka yang menamakan dirinya kaum sufi. Karena barangkali ada di antara mereka yang bodoh terhadap hukum agamanya.

Ucapan Imam Ahmad di atas disampaikan kepada anaknya, sebelum beliau mengenal para sufi. Begitu Imam Ahmad berkenalan dengan Abu Hamzah al-Baghdadi al-Sufi dan mengetahui bagaimana keadaan para sufi lainnya, pandangannya pun berubah. Ia berkata lagi kepada puteranya:


يا ولدي عليك بمجالسة هؤلاء القوم، فإنهم زادوا علينا بكثرة العلم والمراقبة والخشية والزهد و علو الهمة

Wahai anakku, tetaplah bergaul dengan mereka-mereka (kaum sufi itu) karena mereka telah mendorong kita untuk menambah ilmu, muroqobah (perasaan diawasi Allah), rasa takut, zuhud dan cita-cita yang tinggi (ridho Allah).

Abdi Kurnia Djohan (FB) | Islam Nusantara.
______________________________
Pustaka: 

  1. Syeikh Abdul Qadir Isa, Haqaiq ul-Tashawwuf.
  2. Syaikh Amin al-Kurdi, Tanwir ul-Qulub.

Wednesday, May 9, 2018

NASIHAT MALAM UNTUK MU WAHAI SAHABAT

Nasihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Nasihat Malam mu Wahai Sahabat

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu berkata:

"Ta'atilah dan jangan merusaknya. Bertauhidlah dan jangan menyekutukannya. Bersihkanlah sesuatu yang haqq dan jangan mencampuradukkannya.

Jujurlah dan jangan suka mengadu-domba. Bersabarlah dan jangan merasa takut dan sedih. Istiqamahlah dan jangan melarikan diri. Bertanyalah dan jangan merasa bosan. Tunggulah dengan sabar dan nantikanlah, jangan berputus asa.
Bersaudaralah, jangan saling bermusuhan. Bersatulah atas dasar ketaatan, jangan bercerai berai. Saling mencintailah, jangan saling menyimpan amarah. Bersihkan diri dari dosa, jangan kotori dan lumuri dengannya.
Berhiaslah dengan melakukan taat kepada Tuhanmu. Janganlah meninggalkan pintu junjunganmu. Janganlah menoleh dan berpaling dari hadapan-Nya. Janganlah menunda-nunda untuk melakukan taubat.
Janganlah merasa bosan untuk selalu meminta ampun kepada Tuhanmu setiap siang dan malam. Semoga kamu sekalian diberikan rahmat, keberuntungan, dijauhkan dari api neraka, didekatkan ke surga, disampaikan di sisi Allah SWT, diberikan semua kenikmatan di dalam Surga Darussalam.
Dan kalian akan abadi selamanya di sana. Menikmati kesenangan dengan bidadari dan segala macam wewangian, serta suara-suara yang merdu. Dan kalian akan diangkat bersama para nabi, shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang shalih.”

Tasawuf Underground (FB) 
_____________________________________
Pustaka : Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, dalam kitab Fathu Rab Bani)

Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi